Aku Dan Kamu Bahagia Selalu

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Selamat pagi Emak, selamat pagi Abah
Mentari hari ini berseri indah
Terima kasih Emak, terima kasih Abah
Untuk tampil perkasa bagi kami putra-putri yang siap berbakti

 

Itulah bait syair lagu sinetron Keluarga Cemara yang populer di era tahun 90-an. Sinetron cerdas dari ide cemerlang Aswendo Atmowiloto memiliki pesan mendalam bagi kita semua. Syair lagu Keluarga Cemara itu berkumandang di Aula Panti Asuhan Desa Putera, dinyanyikan bersama seluruh umat yang menghadiri dialog interaktif dengan tema, "AKU DAN KAMU BAHAGIA SELALU". 

Saresehan yang diprakarsai oleh Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Jagakarsa, mengundang nara sumber Bapak Drs. Sonny Suharso, M.Psi dan Bapak Adi Kurdi, pemeran "Abah" dalam sinetron Keluarga Cemara, cukup menyedot perhatian pasutri untuk hadir. Sesaat setelah dibukanya dialog interaktif oleh Romo FX. Sutarno, MSF dengan berkat, Bapak Sonny langsung memberikan pertanyaan seputar keluarga kepada umat yang hadir. Berkisar masalah yang timbul dalam keluarga Katolik, terlebih isu hangat di masyarakat tentang 'LGBT'. "Perkawinan Katolik melibatkan Tuhan. Oleh karena itu perkawinan Katolik sangatlah sakral", ujar Bapak Sonny. Lebih lanjut Beliau menegaskan, "Pada hakekatnya perkawinan Katolik melibatkan antara pria dan wanita. Oleh karena itu Gereja Katolik TIDAK MEMBENARKAN terjadinya perkawinan sejenis. Karena salah satu tujuan perkawinan adalah meneruskan keturunan".

Gereja Katolik juga meyakini hidup berkeluarga sebagai panggilan atas titah Tuhan sebagaimana dalam Kitab Kejadian. "Diawal penciptaannya, Tuhan menciptakan manusia sebagai pria dan wanita menurut citra dirinya dan berfirman kepada mereka, beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kej. 1:26-29)".

Jika melihat data tentang adanya umat Katolik yang melakukan perceraian, Bapak Sonny menjelaskan bahwa, sebagai sakramen, perkawinan yang telah diberikan kepada pasangan tidak bisa diceraikan oleh manusia. Karena perkawinan itu sesungguhnya diberikan Allah sendiri melalui tangan-tangan orang yang diurapi yakni, imam. Saat mengikat janji/sumpah setia dihadapan imam, mereka juga mengikat janji dengan Allah. Pernyataan Bapak Sonny dikuatkan juga dengan pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Adi Kurdi. "Jangan menganggap bahwa Sakramen Pernikahan sebagai formalitas, namun pahami dalam iman", ucap Beliau yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 22 September 1948 silam. 'Abah' Adi Kurdi juga mengajak agar umat Katolik dapat mencontoh sinetron Keluarga Cemara yang banyak mengadung nilai-nilai luhur keluarga. Bagaimana mereka tetap bertahan dengan keterbatasan yang ada. kemesraan terus dibangun antara Abah – Emak – dan anak-anak.

Abah – Emak – dan anak-anak. Saat sesi tanya jawab, Bapak Damar dari Lingkungan Paulus 4 memberikan saran kepada Seksi Kerasulan Keluarga untuk memfasilitasi dengan membuka hotline tanya jawab seputar keluarga di Paroki Jagakarsa. Jadi jika ada keluarga-keluarga yang sedang mengalami krisis, mereka dapat langsung berkonsultasi tanpa harus menunggu hadirnya seorang konselir keluarga. Atau mungkin mereka malu untuk bertatap muka.
Bapak Bambang dari Wilayah Lukas mempertanyakan perkawinan yang dilandasi dengan harta. Bagaimana juga dengan seseorang yang rela menderita untuk mempertahankan perkawinanya. "Betapa besar nilai sebuah keluarga. Kebahagiaan suatu keluarga bukanlah diperlihatkan dari kemegahan banyaknya harta, tapi bagaimana suatu keluarga dapat bersatu dan kompak menjalani kehidupan dalam keluarga mereka", jawab Abah yang kini aktif di Gereja Santo Markus, Keuskupan Bogor. "Rela berkorban/menderita hanya semata-mata untuk menyenangkan pasangan bukanlah cinta sejati suami-istri", tegas Bapak Sonny. Pukul 14.00 WIB diaolog interaktif ditutup dengan doa dan santap siang bersama.

corn.budi/wu