Berbagi Kisah Tentang KETEMPATAN

Ijinkan saya berbagi pengalaman tentang "KETEMPATAN"atau menjadi tuan rumah penyelenggaraan arisan RT. Hampir seluruh Kepala Keluarga (KK) ikut serta sebagai anggota arisan. Ada KK yang ikut lebih dari satu nama. Walau ada juga yang tak ikut. Tak masalah, karena arisan sebenarnya kan simpan pinjam bergulir. Nominal bukan tujuan. Pertemuan dan silaturahmi semangat dasarnya. Bagi yang tak ikut arisan, yang penting tetap memenuhi kewajiban iuran RT, dana sosial, uang keamanan, dll.

Pertemuan arisan diselenggarakan satu kali setiap bulan, pada waktu yang disepakati bersama. Yang bertindak sebagai tuan rumah bergulir mengikuti urutan posisi rumah. Jadi sudah pasti setiap bulan ada yang ketempatan. Bu RT tak perlu pusing memikirkan mengatur giliran. Kadang memang ada pertukaran jadwal atas kesepakatan para peserta, baik karena ada halangan, misal pulang kampung, atau dibarengi dengan hajat/ujud syukur, misal kelulusan sekolah, dan lain-lain. Kondisi rumah, besar-kecil, sederhana-megah, bukan menjadi ukuran atau hambatan. Menu makanan yang disediakan pun bukan issue penting. Teh hangat dan goreng pisang bakwan disambut, soto plus kue dinikmati, lontong sayur disantap.

KETEMPATAN mengajarkan saya satu hal: ada rasa waswas tentang jumlah hadirin dikaitkan dengan kecukupan jumlah makanan. Berharap yang datang banyak agar suasana lebih “hidup” dan makanan tak terlantar, namun juga khawatir jumlah nya tak cukup. Sebaliknya juga khawatir yang datang sedikit, kasihan makanan nya dingin merana. Dari situ saya belajar menghargai setiap undangan dengan mengusahakan kehadiran, minimal Nyonya dan anak-anak.

Saya mencatat sisi positif pengaturan KETEMPATAN dengan metode bergilir berurutan. Selain kepastian bahwa setiap bulan sudah pasti ada yang bertindak sebagai tuan rumah, bagi (calon) tuan rumah pun lebih siap karena sudah ada ancang-ancang kapan ia ketempatan, sehingga bisa lebih mempersiapkan diri, baik penyesuaian dengan jadwal keluarga, dengan hajat/ujud, juga menyiapkan anggaran, dan lain-lain pengaturan.

Dikaitkan dengan pengalaman sebagai warga sebuah Lingkungan di Paroki Jagakarsa, pengalaman paling berkesan adalah ketika menghadiri sesi doa di sebuah rumah dengan luas yang sangat terbatas. Saya sangat salut dan hormat atas kesediaan keluarga tersebut KETEMPATAN. Daya tampung yang minim bukan halangan bagi keluarga tersebut. Saya mengamati warga yang hadir pun antusias dan enjoy selama acara berlangsung. Rintik gerimis tak mampu menyingkirkan beberapa warga yang kebagian duduk di balaibalai di teras rumah.

Saya berharap pola “bergilir berurutan” pun bisa diterapkan dalam pengaturan ketempatan di lingkungan-lingkungan di PRRJ. Tentu pengaturan ini bersifat flesibel, misal dimungkinkan 2 KK bekerja sama bertindak sebagai tuan rumah. Kriteria yang dipakai adalah “kemampuan menangani kerepotan”. Misal pasangan orang tua yang sudah sepuh yang kesulitan bila harus mempersiapkan rumah untuk ketempatan, bisa bekerja sama dengan orang muda yang masih enerjik namun tinggal di tempat kost sehingga tak mungkin acara diadakan di tempatnya.

Tentu kita semua sepakat bahwa kita datang yang utama adalah untuk berdoa dan berkumpul, menjalin lebih erat tali persaudaraan. Kita tak tak akan menjadikan menu suguhan tuan rumah sebagai kriteria dan tujuan. Air putih atau teh hangat, pisang goreng atau singkong rebus akan kita sambut dengan gembira, karena kita menghargai kemauan dan niat baik kesediaan menjadi tuan rumah. Allah Memberkati…!


►Puji Harto