Bertekunlah Dalam Doa

Perumpamaan tentang hakim yang tak benar pada Injil hari ini, mengundang kita untuk merenungkan kesetiaan kita dalam berdoa. Yesus dalam perumpamaanNya tidak menonjolkan peran hakim namun lebih pada kesetiaan janda, kaum lemah yang terus menerus meminta pertolongannya. Hakim merasa terganggu oleh janda itu karena permintaan yang terus menerus dan ia mengabulkan permohonannya.

Janda dipuji karena ketekunan dan keyakinannya yang tak terputus untuk terus menerus memintabantuan kepada sang hakim. Kepada kita Yesus memberikan contoh iman dan ketekunan si janda. Ketekunan dan kesetiaan untuk memohon kepada Allah diharapkan oleh Yesus dari kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mudah putus asa. Kita kadang menginginkan doa yang instant; cepat dikabulkan tanpa perlu terlalu banyak berdoa.

Kita sering mudah putus asa dan bahkan mogok berdoa karena doa kita tidak kunjung dikabulkan oleh Tuhan. Janda yang dikisahkan dalam Injil hari ini, member contoh kepada kita bagaimana kita perlu pertama-tama beriman dalam berdoa. Kita perlu percaya dan penuh penyerahan dalam doa-doa kita. Lebih dari itu, dalam doa-doa kita, kita perlu setia dan terus menerus datang kepada Tuhan.Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya.

Sebagai gambaran tentang doa yang tiada putus-putusnya dan tanpa mengenal lelah adalah sbb: Adalah Santa Monica telah mendoakan suaminya agar bertobat selama 32 tahun, suatu waktu yang relatif panjang. Tuhan menjawab doa st Monica setelah 32 tahun. St. Monica juga berdoa untuk anaknya Agustinus yang kemudian bertobat selama 12 tahun.

Inilah salah satu contoh ketekunan dalam berdoa. Tentu ada contoh-contoh lain dalam kehidupan ini di mana ketekunan akan menghasilkan buah yang berarti suatu jawaban dari Tuhan. Doa itu selalu mungkin, doa itu mutlak perlu, doa dan hidup umat beriman tidak dapat dipisahkan. Dan doa tidak boleh dianggap membuang-buang waktu seperti kata orang sibuk.

Doa memang seharusnya menjadi nafas hidup kita, artinya sepanjang hidup kita doa harus menjadi prioritas. Dengan berdoa, apalagi ditambah dengan ketekunan, maka itu berarti bahwa hidup kita sangat tergantung kepada Tuhan. Tuhan itu menjadi pusat hidup kita, dan dengan berdoa, berarti kita berkomunikasi. Dalam komunikasi dengan-Nya, kita memuji dan bersyukur, serta memohon baik untuk sesama mau pun untuk diri sendiri. Itulah inti doa.

Sebagaimana Tuhan Yesus anjurkan agar dalam berdoa kita terus bertekunan, karena ketekunan akan memberikan harapan, dan harapan memberikan semangat. Itulah iman pula yang harus kita pupuk tanpa henti di dalam peziarahan hidup kita.

Jika kita mau menyaksikan betapa nafas doa itu hidup sepanjang hari, ada baiknya anda pergi ke sebuah pertapaan kontemplatif. Dalam sehari para pertapa ini hidup dalam doa lebih dari 8 jam. Sungguh luar biasa para petapa ini hidup dalam doa. Mereka hampir tertutup dengan dunia luar. Jika kita bandingkan dengan diri kita, berapa lama waktu yang kita sediakan bagi Tuhan. 1 jam?, 30 menit?, 15 menit setiap harinya?.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda tetap bertekun dalam doa? Atau marah kepada Tuhan, karena doa anda tidak dikabulkan. Andalah yang menjawabnya.

  • -jk-