DARI KEHENDAKKU MENUJU KEHENDAK-NYA – Pst. Aloysius Wahyu Endro Suseno, Pr

Benih yang Ditabur

Pada suatu hari. ketika menjelang malam, Papa, Pama, kedua kakakku, dan aku berkumpul di ruang keluarga. Papa dan mama duduk manis menatapku dengan penuh perhatian. Dengan hatibati aku mengambil sekeping biskuit berbentuk bundar, mengangkatnya. lalu menunjukkannya kepada orang tuaku. “Kriiiinnnggg Kedua kakakku Yang sedang berlutut membunyikan lonceng kecil. Aku lalu mengambil cawan berisi sirup rasa anggur. Aku mengangkatnya, lalu menunjukkannya kepada orang tuaku. “Kriiiinnnggg Untuk kedua kalinya. kedua kakakku membunyikan lonceng kecil. Adegan itu adalah sebagian kecil dari kegiatan “misa-misa-an” yang kami lakukan sekeluarga waktu aku berusia 5-7 tahun. Aku dan kedua kakakku bergantian menjadi imam dan misdinar. Papa dan mama selalu menjadi umat. Papa selalu memastikan ketersediaan biskuit dan sirup rasa anggur, seolah-olah itu hosti dan anggur. Mama menyediakan taplak, lilin, salib, lonceng, bahkan sampai membuat kasula-kasula-an. Untuk misdinar, cukuplah menggunakan seprai yang dililitkan ke badan, diikat dengan tali, lalu dijepit menggunakan penjepit pakaian.

Konon, ketika kecil aku sangat tertarik kepada sosok imam. Setiap misa, aku selalu minta duduk di bangku gereja paling depan agar bisa melihat imam dari dekat. Sosok imam sungguh memesona: busana yang dikenakannya tampak agung dan lain dari yang lain; ia selalu mendapatkan hosti Yang besar dari umat dan minum anggur, sementara umat mendapatkan hosti yang kecil dan tidak kebagian anggur. Kekaguman itu membuatku ingin menjadi imam, setidaknya menjadi orang yang dekat dengan imam di altar, yaitu misdinar. Karena itu aku tak sabar ingin segera menerima komuni pertama agar bisa menjadi misdinar. Betapa bangganya aku bisa “sepanggung” dengan imam. Setidaknya sama-sama pakai jubah dan berhak berlalu-lalang di atas altar.

Ketertarikanku terhadap sosok imam dan hidup tak bisa dilepaskan dari peran besar keluarga. Merekalah yang menanamkan bibit iman, harapan, dan kasih dalam diriku. Orangtua selalu memastikan bahwa kami menerima sakramen-sakramen: Baptis, Ekaristi, Penguatan, dan Rekonsiliasi. Mereka juga menyekolahkan kami di SD dan SMP Katolik. Sejak kecil. kami sering berdoa sekeluarga, meskipun kebiasaan ini memudar sejak aku dan kedua kakakku beranjak remaja.

 

Meredup

Ketertarikanku menjadi imam sempat hilang ketika aku masuk SMP. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bergaul bersama teman-teman, berpacaran, dan menyalurkan hobi bermusik ketimbang berdoa, membaca Kitab Suci, dan mendalami iman Katolik. Meskipun demikian, aku tetap aktif sebagai misdinar dan ketika SMA aku menjadi Ketua Kerohanian Kristen.

Ada masanya ketika aku lebih nyaman berada di luar daripada di dalam rumah. Karena itu setelah SMA aku memilih kuliah di ITB agar merasa bebas. Ibarat kuda liar yang lepas dari kekang, aku melampiaskan rasa penasaran terhadap apa yang belum pernah kualami ketika masih tinggal bersama orang tua, seperti tidak pulang selama beberapa hari, minum minuman keras, bergaul secara bebas, pergi ke mana pun,kapan pun, dan dengan siapa pun yang kukehendaki. Aku pun menjadi pribadi yang tertutup, tidak ingin masalahku diketahui orang lain dan yakin bisa menyelesaikan segala persoalanku dengan caraku sendiri.

Masa kelam dalam perjalanan hidupku dimulai. Kuliah kutinggalkan. Aku melakukan sesuatu hanya berdasarkan selera; tidak ada tujuan hidup. Aku pernah berkecimpung di game center, musik dan hiburan, judi online, dll. Meskipun demikian, aku berusaha meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa aku baik- baik saja. Aku masih berkeyakinan bahwa Tuhan akan memberikan jalan seperti yang aku kehendaki. Situasi sepertinya tidak banyak berubah hingga akhirnya aku bertanya kepada Tuhan, “Apakah karena aku pernah meninggalkan kesempatan untuk studi, lalu Engkau tidak memberi kesempatan yang lain?” Aku mengalami krisis kepercayaan. Aku tetap yakin bahwa Tuhan itu baik, tetapi mungkin baik untuk orang lain.

 

Titik Balik

Awal panggilanku (kembali) menjadi imam dimulai ketika aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apa yang selama ini sudah kulakukan? Apa yang sebenarnya aku cari? Mau menjadi orang Katolik macam apa aku ini?” Tuhan menyadarkanku bahwa selama ini aku terlalu arogan untuk hidup dengan caraku sendiri. Aku butuh orang atau sesuatu di luar diri yang bisa membantuku menjadi lebih baik. Aku mulai melirik kehidupan di Seminari Tinggi Fermentum. Selama dua tahun terakhir aku bergabung di Majalah Komunikasi Keuskupan Bandung dan setiap Jumat kami mengadakan rapat di Fermentum. Dengan begitu aku mulai mengenal dinamika hidup menggereja di Keuskupan Bandung mengenal para pastor dan frater, serta mengenal suasana hidup di seminari. Aku semakin tertarik menjadi imam Keuskupan Bandung, meskipun Saat itu aku sedang memiliki pacar. Syukur kepada Allah karena pada akhirnya kami bisa tetap saling mendukung pilihan hidup masing-masing. Setelah mempertimbangkan masak-masak, mengikuti live-in, melakukan wawancara dengan beberapa pastor, aku memantapkan diri mendaftar di Seminari Tinggi Fermentum. Dalam perjalanan formatio (pendidikan Calon imam), aku semakin yakin bahwa imamat merupakan sarana yang paling tepat bagiku untuk mcncintai dan dicintai Oleh Allah dan sesama secara lebih total.

Kehidupan selama kurang lebih delapan tahun di seminari, secara umum, berlangsung baik. Aku sempat mengalami guncangan ketika Papa dipanggil Tuhan pada Juni 2016. Aku berharap bahwa suatu Saat Papa dapat menyaksikan diriku ditahbiskan menjadi imam, tetapi rupanya Allah ingin Papa menyaksikannya dari tempat yang lebih mulia. Pukulan kedua terjadi justru beberapa saat sebelum jadwal tahbisan diakonAk. u diberi sanksi oleh Otoritas karena dianggap tidak taat. Aku merasa kecewa, sedih, putus asa, dan sedikit marah. Sekali lagi Allah menunjukkan bahwa la mampu menjadikan pengalamanku, bahkan yang buruk sekalipun, sebagai berkat. Aku diajak untuk mengalami sesuatu yang tidak ideal dan menjalani apa yang tidak aku kehendaki. Pengalaman ini sungguh menantangku untuk tetap menemukan kehendak Allah dalam situasi apapun.

Dari perjalanan panggilanku menjadİ imam, aku memiliki gambaran imam yang bersukacita dan lepas bebas. Makna sukacita yang aku hidupi sangat banyak terinspirasi oleh Paus Fransiskus, terutama dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium. Sukacita di sini berarti melihat, merasakan, mengalami Allah dalam setiap momen kehidupan, baik situasi positif, negatif, maupun netral. Lepas bebas berarti disposisi diri yang tidak terikat oleh siapapun dan apapun, termasuk darİ kchendak dan pemikiran diri sendiri, bahkan ketika melakukan sesuatu karena keterikatan dengan otoritas, atturan, dsb. Satu-satunya İkatan yang ada hanyalah dengan Sang Pokok Anggur. Lepas bebas tidak dilihat dari faktor luar/lahiriah, karena pada praktiknya, seorang İmam diosesan şelalu terikat dengan paus, uşkup diosesan, keuşkupan, umat paroki/kategorial, dl. Lepas bebas di sini lebih dilihat dari faktor dalam/batiniah. Sebagaİ Seorang (calon) İmam, aku melakukan, memilih, memutuskan sesuatu karena kehendak bebasku sendiri, meskipun mungkin diawali oleh kehendak dari luar, misalnya Uskup. Yang kugunakan sebagai pola utama sikap lepas bebas ini adalah peristiwa Getsemani, yaitu penyatuan kehendak manusiawi Yesus dengan kehendak Ilahi Bapa, tindakan Yesus memilih salib atas kehendak bebas-Nya.

 

Pst. Aloysius Wahyu Endro Suseno, Pr

Biodata

Tempat tanggal/ lahir       : Jakarta, 29 September 1982

Paroki Asal                          : Ratu Rosari, Jagakarsa. Jakarta

Nama Ayah                          : Antonius Yosef Soepratito (alm.)

Nama Ibu                             : Anna Maria Darsutji

Anak ke                                : 3 dari 3 bersaudara

 

Riwayat Pendidikan dan Formas

1988 – 1994                       : SD Desa Putra, Jakarta.

1994 – 1997                       : SMP Desa Putra. Jakarta.

1997 – 2000                       : SMAN 28, Jakarta.

2000 – 2002                       : Matematika Institut Teknologi Bandung (tidak tamat).

2004 – 2005                       : Perkusi Sekolah Tinggi Musik Bandung (tidak tamat).

2010 -2012                         : Tahun Orientasi Rohani Seminari Tinggi Fermentum

2011 -2015                         : Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

2016 – 2018                       : Magister Ilmu Teologi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

13 Feb 2019                       : Tahbisan Diakon di Seminari Tinggi Fermentum Keuskupan Bandung

 

Riwayat Pastoral

2012-2013                         : Asisten Pembimbing Rohani Legio Maria Junior Maria Bunda Kita, Paroki St. Paulus, Bandung.

2013-2014                         : Pendamping Misdinar Paroki St. Ignatius, Cimahi.

2014-2015                         : Pengajar Love Bible SD St. Yusuf dan St. Maria, Cimahi.

2015-2016                         : Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan.

2016- 2017                        : Belajar Pastoral di Seminari Menengah Cadas Hikmat Keuskupan Bandung

2017-2018                         : Belajar Pastoral di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Bandung

Juli-Desember 2018        : Bekerja di U.D. Bintang Terang, Bandung.

10 Desember 2018          : Tahun Pastoral di Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Bandung

 

Sumber: Buku Tahbisan Imam.25 Juli 2019. Paroki Santo Paulus Bandung

https://www.instagram.com/p/B0gfe2GHnhf/?igshid=1ezl70wx5o3pi

You may also like...