HENDAKLAH KITA BAGAI GARAM DAN TERANG DUNIA

Selasa 09 Juni 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 5:13-16)

Semua orang tentu ingin menikmati makanan yang enak, sedap, gurih, lezat dan lain sebagainya. Seseorang yang menyiapkan sayuran dan lauk pauk memakai berbagai macam rempah-rempah yang dapat membuat sayur dan lauk pauk itu sedemikian rupa sehingga orang yang memakannya akan merasa puas. Rempah-rempah itu bisa jadi adalah bawang merah/putih, ketumbar, lada, kayu manis, laos, jahe, kencur dan lain sebagainya. Kalau ada satu dari bahan-bahan itu tidak tersedia, sayur atau lauk pauk itu masih dapat dinikmati, tetapi ada satu bahan yang tidak dapat tidak harus disediakan, yaitu garam. Tanpa garam makanan tidak akan terasa sedap. Garam memang satu bahan yang membuat makanan mempunyai rasa. Tanpa garam makanan berasa hambar.

Selain memberikan rasa pada makanan, garam juga sangat berguna saat cuaca panas sebelum adanya penemuan listrik dan pendingin udara karena garam bisa mendinginkan. Garam juga bisa mengawetkan daging dan mencegah kebusukan. Garam juga digunakan sebagai simbol persekutuan/persatuan dan berbagi rasa bersama dengan rekan-rekan dalam jamuan makan. Maka ditengah-tengah meja makan biasanya ditaruh garam dalam sebuah tempat yang dapat diambil bergilir mereka yang sedang makan bersama jika mereka merasa makanan yang disediakan kurang asin. Demikian pula halnya, sebuah lampu dinyalakan orang untuk menerangi suatu ruangan agar suasana menjadi terang karena dalam kegelapan orang-orang di dalam ruangan itu dapat saling bertabrakan.

Dalam Injil hari ini Yesus berpesan kepada para murid-Nya agar mereka menjadi garam dan terang dunia. Garam kita itu ialah perbuatan-perbuatan yang berbafaskan kebaikan, belas kasih, keadilan dan kerahiman Allah kepada sesama. Perbuatan-perbuatan baik kita itu bagaikan terang yang terlihat orang. Yesus juga pernah berkata kepada para murid-Nya agar mereka tinggal dalam diri-Nya agar seperti ranting menempel pada pokok anggur, mereka menghasilkan buah. Kita juga adalah murid-murid Yesus yang harus menghasilkan buah-buah kebaikan kepada sesama kita. Yesus akan mencela kita bila kita bertindak sebaliknya, yaitu bila kita menyebabkan orang lain berbuat seperti kita karena apa yang kita perlihatkan kepada orang itu bukannya kebaikan Allah, melainkan perbuatan-perbuatan kita yang berlawanan dengan kebaikan Allah. Untuk itu, setiap saat kita harus berusaha untuk menjadikan semua tingkah-laku dan perbuatan kita seperti layaknya garam dan terang yang memberikan aroma kebaikan dari Allah. Bila apa yang kita perbuat dan lakukan kehilangan garam dan terangnya, kita harus membuatnya berfungsi kembali. Ibarat emas yang sudah kotor, buram, dan tak mengkilap, kita harus membakar emas itu dengan api sehingga akan kembali bersinar, bercahaya dan berbinar-binar sehingga sedap dinikmati oleh orang yang memandangnya. Untuk itu, marilah kita memohon Roh Kudus agar melahirkan kita kembali dan membaharui hidup kita.

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...