HIDUP KITA ADALAH PERSEMBAHAN HIDUP KEPADA ALLAH

Sabtu 06 Juni 2020

Renungan sabda Allah. (Markus 12:38-44)

‌Berdoa, berpuasa dan berderma adalah praktek keutamaan spiritual atau kewajiban agama yang sangat di pegang teguh dan dilaksanakan oleh bangsa Yahudi, terutama oleh mereka yang mempunyai wewenang dalam upacara keagamaan. Mereka itu adalah orang~orang Farisi, para imam dan ahli Taurat. Mereka menjalankan peraturan-peraturan keagamaan itu dengan sangat ketat. Dengan demikian mereka merasa telah memuliakan Allah dan pantas berharap mendapatkan pahala. Misalnya, orang-orang Farisi berpuasa dua kali dalam seminggu, Senin dan Kamis, dan mereka sangat membanggakan hal tersebut (Luk 18:12). Saking disiplin dan ketatnya mereka menjalankan kewajiban-kewajiban itu, mereka terperangkap dalam rutinitas dan motivasi agar dilihat dan dipuji orang. Makna sesungguhnya dari kewajiban-kewajiban keagamaan akhirnya hilang.

‌‌Akhirnya, mereka menjadi sombong atau arogan dan munafik. Dalam menjalankan kewajiban atau peraturan itu, hati mereka jauh dari hasrat untuk menyembah dan memuliakan Allah. Dalam Injil hari ini, Yesus mengecam perilaku para ahli Taurat itu sambil memperingatkan murid-murid-Nya agar waspada terhadap perilaku mereka. Kata-Nya: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

‌‌Kelanjutan kisah dalam perikop Injil hari ini ialah kejadian dimana Yesus suatu ketika mengamati peti persembahan. Orang-orang kaya memasukkan uang dalam jumlah banyak dari kelebihan harta mereka. Lalu dilihat-Nya seorang janda miskin memasukkan sedikit uang yang tak seberapa dan yang merupakan seluruh harta yang ia miliki. Lalu Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa janda itu memberikan persembahan jauh lebih besar daripada orang-orang kaya itu. Yesus mau mengatakan bahwa persembahan kepada Allah tidak boleh tanggung-tanggung atau setengah-setengah. Orang dalam hidupnya harus mempersembahkan segala sesuatu yang telah ia terima dari Allah kepada Allah. Persembahan diri seseorang kepada Allah dapat diwujudkan dalam berbagi bentuk seperti waktu, tenaga, pikiran dan lain sebagainya kepada Gereja ataupun kepada mereka yang membutuhkan. Yesus sendiri telah memberikan teladan berbagi dengan mempersembahkan seluruh hidup-Nya melalui karya-Nya bagi penebusan dosa manusia dengan sengsara dan kematian-Nya.

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

 

You may also like...