Kamu Adalah Murid-Ku Jikalau Kamu Saling Mengasihi

Dalam bacaan Injil hari ini (Bacaan-bacaan Ekaristi hari ini diambil dari Kis 14:21b-27; Mzm. 145: 8-9.10-11.12.13ab; Yoh. 13:31-33a.34-35) Yesus memberikan dua nasehat atau wejangan kepada para muridNya. Pertama Yesus mengajak agar para murid Yesus senantiasa memuliakan Allah dalam diri Yesus. Yang kedua, Ia menasehati para murid agar mereka senantiasa saling menaruh cinta kasih satu sama lain. 

Pertama, Yesus mengajak para murid agar memuliakan Allah Bapa di dalam diri Yesus Putra Bapa. Dikatakan oleh Yohanes dalam Injil hari ini bahwa dalam perjamuan terakhir, sesudah Yudas meninggalkan ruang perjamuan, Yesus berkata kepada para murid, “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan, dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia,Allah akan mempermuliakan Diajuga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” Bagi orang-orang Katolik memuliakan Allah Bapa kita dalam diri Yesus Putra-Nya bukanlah hal yang asing. Setiap kali kita berdoa kita selalu mengawali doa-doa kita dengan memuji dan memuliakan Allah Bapa kita. Dalam doa Bapa Kami kita selalu mengungkapkan “Bapa kami yang ada di surga dimuliakanlah nama-Mu.” Dan setiap kali kita mengakhiri doa-doa kita selalu mengakhirinya dengan ungkapan “Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus…” Dalam doa-doa sepertinya kita tidak banyak mengalami kesulitan untuk memuliakan Allah Bapa kita. 

Hal yang pantas menjadi permenungan kita sebagai orangorang Katolik adalah apakah kita sudah benar-benar memuliakan Allah sebagai Bapa kita di dalam tutur kata, sikap dan perbuatan kita sehari-hari? Di dalam setiap peristiwa hidup harian yang kita alami apakah saya memuliakan Allah? Pengalaman menunjukkan bahwa kita akan mudah memuliakan Allah (= bersyukur) saat dimana kita merasa bahagia, happy di dalam hidup. Sebaliknya ketika kita sedang dirundung kesusahan terasa sulit untuk memuliakan-Nya. 

Kedua, Yesus menasehati para murid-Nya agar mereka saling menaruh cinta kasih. “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku jikalau kamu saling mengasihi.” Jika orang orang Katolik dapat memuliakan Allah Bapa kita dalam diri
Putra-Nya Yesus Kristus, ia dapat menaruh cinta kasih kepada Allah dan sesamanya. Cinta kasih bukanlah teori melainkan praktik kehidupan. Ia bukan sesuatu yang dipikirkan tetapi sesuatu yang dilakukan.

Ajakan Yesus ini hendaknya selalu menjadi pergulatan hidup kita untuk saling menaruh cinta kasih. Ibarat air dan minyak yang tidak dapat menyatu, demikialah kebalikan cinta kasih, yaitu permusuhan. Lebih mudah bagi setiap orang menaruh cinta kasih kepada orang-orang yang tidak bermusuhan dengannya. Sebagai orang Katolik kita dipanggil oleh Yesus untuk juga menaruh cinta kasih kepada musuh-musuh atau orang yang membenci kita. Bahkan Yesus menasehatkan kepada kita agar mendoakan orang yang membenci kita. Tidak perlu berangan-angan terlampau jauh siapakah mereka itu. Mungkin di dalam keluarga kita masingmasing atau di dalam komunitas biara kita, kita sungguh berjuang dengan pribadi-pribadi yang demikian. Di situlah kita diuji dan diundang oleh Yesus, “kamu adalah murid-Ku jikalau kamu saling mengasihi.” Salam dan Berkat Tuhan
 

admin

"Hidup ini seperti pensil yang pasti akan habis, tetapi meninggalkan tulisan-tulisan yang indah dalam kehidupan"

You may also like...