KASIH ITU SABAR DAN MEMAAFKAN

Rabu 12 Agustus 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 18:15-20)

Yesus pernah mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk mengampuni orang yang berbuat dosa: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Luk 17:3-4). Angka tujuh melambangkan banyak hal, namun mempunyai karakteristik sempurna di dalam bangsa Yahudi. Sebagai contoh kita melihat imam harus memerciki darah atau minyak di hadapan Tuhan sebanyak tujuh kali (Im 4:6; Im 14:16).

Tetapi Yesus hendak membaharui kepercayaan lama itu dengan lebih mendalam karena hukum yang paling utama dan pertama adalah hukum kasih. Kesalahan atau dosa seseorang terhadap kita memang membuat kita luka dan sebagai manusia, secara naluri kita terdorong untuk membalas dan memberikan pelajaran kepada orang yang bersalah agar ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Tetapi menjadi masalah ketika orang yang bersangkutan tidak merasa bersalah, bertobat dan minta maaf atau pengampunan.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan hukum kasih baru dengan berkata kepada Petrus: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. jika ia tidak juga mau mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Yesus hendak mengatakan bahwa bagaimana pun kita terluka oleh perbuatan seseorang, kita harus menghadapinya dengan kasih dan kesabaran. Rasa ingin membalas atau membiarkannya berlalu begitu saja, harus dapat kita redam. Jika ia menerima teguran kita, berarti relasi kita dengannya telah pulih, persoalannya menjadi beres, terjadi rekonsiliasi.

Yang hendak Tuhan Yesus tekankan dalam Injil hari ini ialah kemauan kita untuk memberikan nasihat sebagai saudara guna mengoreksi perbuatan orang yang bersalah dengan semangat kasih. Dan apabila sudah tidak ada jalan lain, kita hendaknya  mendoakan orang itu dengan dengan satu atau dua orang dalam nama Tuhan Yesus agar permohonan kita dikabulkan Allah. Yesus juga pernah berkata: “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan ioleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:19).

Yesus menghendaki agar kita mau mengampuni sesama kita sampai kapan pun. Ia pernah berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Matius 6:14-15). Mengampuni adalah salah satu perintah yang mungkin gampang diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Namun kita bisa belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama seperti Musa mengampuni Harun dan Miryam yang memberontak (Bil 12:1-13). Daud juga mengampuni Saul, walaupun Saul berusaha berkali-kali membunuhnya (1Sam 24:10-12). Yesus menasihati kita: “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25). Dan rasul Paulus mengajarkan bahwa kasih itu antara lain tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain(1 Kor 13:5b).

 

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...