KERAJAAN ALLAH ADA DALAM DIRI KITA

Senin 08 Juni 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 5:1-12)

Mendengarkan atau membaca Sabda Bahagia, bagi orang yang tidak rendah hati dan egois, sulit untuk menerima seketika. Orang bila sedang mengalami kesulitan dalam hidup, sebagai manusia, tentunya ingin segera mencari solusi, mencari kelepasan dari kesulitan hidup yang menghimpit sesegera mungkin. Kebanyakan orang pada dasarnya menginginkan terpenuhinya kebutuhan hidup yang cukup. Orang merasa bahwa dengan semua kebutuhan hidup terjamin, ia akan bahagia dalam hidupnya dan bahkan orang dapat hidup sejahtera dan bahkan mulia. Namun sayang, semua keinginan atau impian ini tidak selalu dapat kesampaian. Terkadang orang mengalami kesesakan dan penderitaan dalam hidup karena berbagai sebab.

Berbagai penderitaan dalam hidup ini, sepanjang bukan akibat perbuatan kita sendiri, hanya bisa dihadapi dengan kesabaran, kerendahan-hati dan kelemah-lembutan. Inti Sabda Bahagia Yesus ialah agar kita selalu memiliki iman dan pengharapan kepada Allah. Kita harus menggantungkan hidup kita pada Allah semata. Tidak ada hal apa pun yang dapat kita andalkan selain Allah sendiri. Demikian juga, Yesus ingin agar iman dan pengharapan kita kepada Allah semakin dalam dan sempurna asal dilandasi dengan kasih.

‌Matius, pengarang Injil ini, menujukan ucapan bahagia ini kepada orang-orang Yahudi yang telah memeluk Kristen, yang sebagai bangsa, mereka adalah bangsa yang terpilih. Berbahagialah juga kita yang terpilih Allah dan empunya Kerajaan Sorga karena Kerajaan Sorga berarti Kerajaan Allah. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi, karena begitu hormat kepada Allah, mereka mengganti kata Allah dengan Sorga. Yesus suatu kali berkata bahwa Kerajaan Allah ada dalam hati kita (Lukas 17:21). Untuk menghayati dan menjalankan Delapan Sabda Bahagia Yesus, kita dapat mengaplikasikan pemahaman kasih menurut St. Paulus, yaitu: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-8).

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

 

You may also like...