Memilih Pemimpin Tepat untuk Jakarta

Masyarakat bulan-bulan terakhir ini disibukkan dengan rencana penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada)  serentak yang dijadwalkan nanti pada tanggal 15 Febrairi 2017. Dari KPU, Bawaslu,KPPS  dan para calon pemilih yang sudah genap berumur 17 tahun pada tanggal 15 Februari semua sedang dan akan melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Seperti pilkada-pilkada sebelumnya, pasti ada masalah-masalah yang timbul seperti DPT, kartu identitas, C-6, KTP ganda dan lain-lain sebagainya. Selain itu, bagi para pemilih, mereka juga dibuat bingung dengan tiga paslon yang akan saling memperebutkan kursi No.1. DKI.

Situasi politik sedang panas dengan tensi tinggi. Seperti kita ketahui, ada tiga calon gubernur DKI, Agus -Silvyana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot, dan Anies Badwedan-Sandiaga Uno. Mereka baru saja melewati masa kampanye untuk memperebutkan suara-suara pemilih. Sampai-sampai para ketua umum partai-partai pendukung utama dari ke tiga paslon itu turun ke lapangan untuk mengampanyekan calon gubernur mereka masing-masiing agar dapat terpilih. Tidak mudah bagi masyarakat untuk menentukan siapa paslon yang terbaik untuk menduduki kursi No.1 dalam Pemerintah DKIJakarta. Semua pasti mengampanyekan diri mereka bahwa merekalah yang terbaik dan pantas untuk memerintah selama lima tahun ke depan. 

Pada hari Minggu lalu, tanggal 5 Februari 2017 lalu, diadakan sebuah sarasehan oleh Seksi Hubungan antar Agama dan Kemasyarakatan di aula atas Panti Asuhan Desa Putera tentang Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017 dengan tema: "Memilih Pemimpin Tepat untuk Jakarta". Pembicara tunggal adalah Bapak Paulus Krissantono dari Komisi HAAK KAJ dan Komisi Kerasulan Awam  KWI. Kiprah beliau di dunia politik tidak diragukan lagi. Beliau pernah menjadi anggota DPR dari Fraksi Golkar selama 20 tahun. Pertama-tama, beliau menekankan bahwa politik itu bukan sesuatu yang kotor sehingga harus dijauhi. Politik pada hakekatnya adalah sesuatu yang mulia yaitu, menurut ajaran Gereja Katolik, untuk mengusahakan bonum commune, kesejahteraan bersama. Orang Katolik yang berkecimpung dalam politik praktis harus menjadi terang dan garam dunia, apapun rintangan yang ada dan betapapun sulitnya.

Pilih paslon yang mana untuk DKI Jakarta? Bapak. Krissantono merujuk kepada surat gembala KWI tentang PILKADA bahwa Gereja Katolik tidak mengarahkan umat Katolik untuk memilih paslon tertentu pada setiap pilkada atapun Pilpres. Pegangan Gereja ialah hanya suara hati. Asal sesuai dengan suara hati, pilihan setiap orang tidak salah. Tetapi masalahnya kriteria-kriteria apa yang harus yang dapat mendasari suara hati itu? Menurut Bapak Krissantono, kriteria-kriteria dalam menentukan untuk memilih paslon adalah sebagai berikut :

1. Apakah paslon orang yang pancasilais dan seberapa besar kadar pancasilaisnya.

2. Apakah paslon tersebut kira-kira akan atau sudah berdedikasi, mengabdi dalam melaksanakan tugas dan apakah telah atau kira-kira akan menunjukkan performance/prestasi yang baik

3. Apakah paslon tersebut memiliki track record atau jejak-rekam yang baik selama ini.

4. Apakah paslon tersebut jujur.

5. Apakah paslon tersebut bertanggung-jawab.

6. Dan apakah paslon tersebut konsern pada masalah lingkungan hidup.

Atas pertanyaan dari salah seorang peserta sasehan, apakah perlu kita mempertimbangkan baik tidaknya paslon dari partai-partai pendukung, Bapak Krissantono menjawab bahwa kita tidak perlu terpaku pada partai pendukung paslon sampai mendetail karena hampir semua partai menyatakan bahwa partai mereka berdasarkan Panca Sila. Lebih baik kita lebih berfokus pada karakter setiap paslon. Sebelum pembicara datang, dibacakan oleh moderator, Bapak Widie Tjahjanto, butir-butir himbauan Bapak Uskup Mgr. Suharyo sebagai berikut : 

  1. Untuk tetap bersikap tenang dan jernih menyikapi keadaan. kita mendukung segala upaya pemerintah dalam menjaga ketenangan dan suasana damai.
  2. mengingat pentingnya arti pilkada serentak ini dalam kehidupan bermasyarakat, saya menghimbau agar umat Katolik yang mempunyai hak pilih sungguh-sungguh menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani.
  3. Dalam menentujab pilihannya, sangat diharapkan umat katolik mengedepankan rasa kebangsaan dan kebhinekaan, yang diharapkan memberi makna positif bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.
  4. Mari kita terus berdoa agar Tuhan selalu menjaga Bangsa dan Negara kita, agar para pemimpinnya senantiasa diberi terang kebijaksanaan, hingga melalui proses ini kita bersama sama dapat maju menuju masyarakat yang damai dan sejahtera.
  5. Mohon dijaga sungguh-sungguh agar Gereja/Ibadah tidak dijadikan tempat atau sarana dalam berkampanye dalam bentuk apapun.