PUASA MEMBUKA HATI TERHADAP KEHENDAK ALLAH

Renungan sabda Allah. (Matius. 9:14-17)

Puasa adalah suatu cara yang penting untuk menguasai diri, mendominasi atas diri, dan ini dipraktekkan oleh hampir semua agama. Puasa juga bertujuan untuk membebaskan pikiran dari hal-hal negatif, solider dengan orang yang lapar dan selain untuk kesehatan. Dalam kalender Ibrani, ada beberapa hari puasa yang dijalankan penganut Yudaisme; banyak di antaranya untuk memperingati malapetaka yang berkisar pada hancurnya Bait Suci atau upaya penghancuran bangsa Yahudi. Yom Kippur adalah sebuah hari paling kudus bagi umat Yahudi sepanjang tahun. Yom Kippur adalah hari umat Yahudi mendekatkan diri pada Tuhan dan menyucikan jiwa. Hari ini disebut “hari penebusan” atau “hari perdamaian”, seperti ditulis dalam Imamat 16:30. Demikian juga murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa menurut tradisi bangsa Yahudi. Yesus juga berpuasa selama 40 hari.

Yesus dalam kisah Injil hari ini menanggapi kritikan murid-murid Yohanes yang bertanya mengapa murid-murid-Nya sendiri tidak berpuasa seperti mereka dan orang-orang Farisi. Kita mengetahui bahwa orang-orang Yahudi terutama murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi memegang teguh aturan keagamaan mereka, yaitu berpuasa. Tujuan mereka berpuasa ialah agar mereka bisa bertobat atas segala dosa. Yesus tidak menyalahkan tujuan puasa mereka, namun mengritik caranya yang menekankan mati raga fisik yang terlalu kaku. Yesus lebih menekankan disposisi hati seseorang ketika ia berpuasa, yaitu agar dengan berpuasa hati seseorang dapat lebih terbuka pada kehendak Allah. Terbuka kepada kehendak Allah berarti semakin dewasa iman seseorang. Iman yang dewasa juga berarti siap untuk melakukan kehendak Allah dalam hidupnya.

Untuk itu, kapan saja ketika seseorang ingin agar imannya semakin dewasa, ia harus mempersembahkan hatinya kepada Allah dan Allah hanya berkenan pada persembahan hati yang sungguh-sungguh ingin dan siap untuk menerima rakhmat Allah. Rahmat Allah itu ibarat anggur manis yang harus ditampung dalam hati manusia. Hati untuk menampung rahmat Allah harus selalu dalam keadaan baru dan bersih sehingga rakhmat Allah itu selalu dapat tertampung dalam hati kita. Setiap kali kita menerima rahmat Allah hati kita selalu diperbaharui. Membuat hati kita agar selalu mampu menampung rakhmat Allah ini dapat dibantu dengan berpuasa. Jadi berpuasa berarti membuat hati kita semakin sejalan dengan kehendak Allah. Akhirnya, berpuasa dimaksudkan agar kita dapat ambil bagian dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus sebagai karya penebusan Allah atas dosa manusia.

 

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...