Renungan Lukas 24: 13-35

"Penghalang Mata Iman"

 

Ketika saya berusia 10 tahun, saya pernah mengalami peristiwa jatuh dari sepeda motor, saat sedang diboncengi oleh kakak saya yang sulung. Efek dari peristiwa tersebut, membuat saya mengalami sedikit gangguan syaraf di mata; sehingga jika melihat benda yang sedikit jauh, pandangan mata menjadi kabur. Mulai saat itu, saya harus memakai kacamata minus. Tanpa kacamata maka pandangan saya menjadi kabur. Namun adakalanya, saat kacamata saya merasa ada sesuatu yang menghalangi padangan mata, sehingga tetap tidak jelas walaupun sudah memakai kacamata.

Terhalangnya pandangan mata kita, bukan saja bisa dialami secara fisik tetapi juga bisa kita alami secara spiritual. Contohnya begini: kita tahu Tuhan ada, tetapi kita tidak mampu melihat sosok Tuhan, kasih serta kebaikan-Nya secara benar. Kita tahu akan kebesaran kuasa Tuhan yang tidak terbatas dalam menolong kita, tetapi kita tidak bisa melihat itu sebagai sebuah kebenaran yang bisa dipercaya dengan iman. Kita tahu akan ketetapan-Nya dan apa yang dilarang-Nya, tapi kita mentolerir itu dengan  seolah-olah menganggap Tuhan itu pengertian kok pada manusia… Tuhan tidak akan marah. Kita merasa sering diingatkan oleh Tuhan, tapi kita ragu dan menganggap itu mungkin hanya perasaan kita saja. Atau kita sudah terus berdoa tetapi sepertinya Tuhan mengabaikannya.  Intinya, ada sesuatu yang menghalangi pandangan iman kita sehingga kita pun mulai ragu akan hidup yang tanpa jawaban, putus asa, tidak lagi punya semangat dan harapan.

Ketika kita bertarung dengan berbagai permasalahan hidup, tekanan ataupun beban-beban; kita pun bisa mengalami hal yang sama seperti murid-murid Yesus yang tidak lagi mengenal Dia yang menampakkan diri dengan berjalan bersama mereka. Kita bahkan mulai meragukan keberadaanNya di tengah-tengah kita. Hal tersebut membuat kita putus asa, kehilangan harapan dan mulai menuduh Tuhan tidak menepati janji. Alhasil, bisa jadi kita malagan akanbjatuh ke dalam berbagai alternatif yang menyesatkan dan membinasakan. Padahal kesalahan bukanlah dari pihak Tuhan. Masalahnya ada pada pandangan kita yang tertutup beban penderitaan yang terlalu besar sehingga tidak lagi mengenaliNya. Bahkan setelah mendengar firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan kehadiran Tuhan, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka. Bisakah kita mengurai pehalang di mata kita?