Renungan Yohanes 11: 1-45

Percaya dan Bersyukur

Suatu ketika, saya pernah mengalami suatu keaddan yang sangat sulit. Begitu sulitnya sampai saya betul-betul merasa putus asa. Perasaan yang muncul saat itu ialah sedih, kecewa dan bingung. Sedih, karena mengapa hal itu bisa terjadi pada diri saya. Kecewa, karena merasa sendiri, tidak ada yang mau peduli. Bingung, karena tidak tahu harus berbuat apa.

Maria dan Martha, dalam bacaan Injil Minggu ini, merasakan juga kondisi sulit, seperti apa yang pernah saya rasakan. Pertama, mereka sangat sedih, karena kematian saudaranya, Lazarus. Padahal dalam padangan orang Israel, laki-laki merupakan harapan sekaligus penyangga kehidupan dalam keluarga. Kedua, mereka kecewa terhadap Yesus, karena saat Lazarus dalam keadaan sakit, Maria dan Martha telah mengirim berita kepada Yesus supaya ia datang (Yoh.11:3). Akan tetapi Yesus malah dengan sengaja menunda ke Betania dan menetap dua hari lagi di seberang sungai Yordan (Yoh.11:6); Kekecewaan itu sangat nampak dalam ungkapan Martha saat bertemu Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (Yoh.11:21). Ketiga, mereka bingung, ketika Yesus mengatalan “Angkat batu itu!” di depan makam Lazarus. Yesus itu sebenarnya mau ngapain tho, lha wong Lazarus sudah mati kok, malah disuruh buka batu penutup makam. Kebingungan ini nampak sangat jelas dalam kata-kata Martha: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (Yoh.11:39).

Dalam Situasi yang tidak mengenakkan terjadi dalam hidup kita, secara manusiawi kita akan memberontak, menyalahkan keadaaan bahkan menyalahkan Tuhan. Namun jika terjadi sebaliknya; dimana kita diberkati dengan rejeki melimpah, anak-anak kita sukses, naik jabatan, dihormati dan disegani orang; seringkali kita menganggap semua itu karena hasil jeri payah dan usaha kita. Kita lupa bersyukur pada Tuhan dan mengikuti apapun yang mau menjadi kehendak-Nya. Yesus mau supaya kita belajar serta mengasah diri untuk percaya dan bersyukur.

 

-rufi-