RESPEK

Oleh : Suster Hildegardis Afra, OP

Respek (rasa hormat) merupakan tali pengikat antara Allah dan manusia melalui sakramen, khususnya sakramen tobat, dalam sakramen ini kita diajak untuk menyadari keberadaan umat manusia seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya 43:4, “Oleh karena engkau berharga di mataKU dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau”

 

Seorang teman berujar demikian, “Koq sekarang ini orang hidup hanya untuk dirinya sendiri.” Lalu saya timpali dengan pertanyaan, “Maksudmu?”. “Saya sungguh sebel sama teman di kantor koq nggak ada respek sedikitpun ama kita-kita? Padahal keberhasilan itu bukan hanya usaha dia melulu tapi kan, atas usaha kita bersama. Yang sungguh menyebalkan lagi atasan juga tidak ada respek ama kita, atasan hanya mendengar sepihak saja”. Lalu saya bertanya, “Sebenarnya apa sih yang kamu maksudkan dengan RESPEK?”. Teman tadi lalu berkata bahwa sekarang ini orang telah kehilangan rasa hormat atau respek.

Sejenak saya tertekun dengan ungkapan teman ini barangkali saya juga termasuk pelaku atas ketidakbahagiaan orang yang ada disekitar kita karena kita kurang memberikan respek kita akan keberadaan orang lain. Dalam kehidupan bersama respek merupakan tali pengikat agar kita bisa berelasi dan bekerjasama, sehingga terjadilah hubungan yang harmonis karena ada rasa percaya dan dipercaya.

Dalam kehidupan menggereja sebagai umat Allah khususnya dalam masa Prapaskah ini baiklah kita juga bertanya pada diri sendiri bagaimanakah respek saya terhadap pribadi-pribadi yang ada di sekitar hidupku? Adakah sikap respek ini menjadi habitat hidupku? Atau saya justru pelaku sikap acuh tak acuh, cuek, atau tidak peduli?.
Dalam masa Prapaskah kesempatan yang sungguh indah untuk membangun sikap kemanusiaan, merefleksikan respek kita akan sesama, baik itu anggota keluarga maupun sesama yang ada di lingkungan sekitar kita berada, bisa rekan kerja atau tetangga tempat kita berdomisili.

Respek (rasa hormat) merupakan tali pengikat antara Allah dan manusia melalui sakramen, khususnya sakramen tobat, dalam sakramen ini kita diajak untuk menyadari keberadaan umat manusia seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya 43: 4, “Oleh karena engkau berharga di mataKU dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau”.

Sebagai ciptaan yang indah dan mulia kiranya kita bisa membangun hubungan yang didasari respek dan mari kita mulai membangunnya dalam hidup, baik hidup pribadi maupun hidup dalam keluarga, dan akhirnya menjadi indah pada waktunya pengkotbah 3: 11(a),”Ia membuat segala sesuatunya indah pada waktunya.”

 

admin

"Hidup ini seperti pensil yang pasti akan habis, tetapi meninggalkan tulisan-tulisan yang indah dalam kehidupan"

You may also like...