BARANGSIAPA TIDAK MEMIKUL SALIBNYA TIDAK LAYAK BAGI KRISTUS.

Minggu 28 Juni 2020

Renungan Sabda Allah.(Lukas 10: 37-42)

Menurut pikiran normal manusia, aneh jika untuk melakukan sesuatu yang baik, seseorang tidak boleh lebih mengasihi ayah, ibu, istri, anak-anak dan saudara-saudaranya daripada sesuatu yang hendak ia lakukan itu. Orang bingung dan tidak segera mengerti maksud Yesus, yang kita baca dalam Injil hari ini, yang berkata bahwa barang siapa lebih mengasihi anggota keluarganya lebih daripada diri-Nya tidak layak bagi-Nya. Dalam hal ini, yang Yesus maksudkan ialah bahwa untuk menjadi murid-Nya, kita harus menomor-duakan ayah, ibu, isteri dan saudara-saudara kita. Yang Ia maksudkan bukan dalam arti harafiah tetapi kiasan. Tidak berarti kita tidak boleh mengasihi ayah, ibu dan istri atau saudara-saudara kita. Maksudnya adalah bahwa kita tidak harus terikat atau tergantung kepada seseorang yang kita kasihi. Lebih jelas lagi, bila perlu kita harus mau meninggalkan orang yang kita kasihi secara fisik agar kita dapat mengikuti Yesus. Misalnya, seseorang yang ingin belajar di Amerika tetapi niat itu diurungkannya gara-gara ia tidak tega meninggalkan ibunya, berarti orang itu tidak sepenuhnya mau melaksanakan niatnya. Atau seorang pemuda yang ingin menikahi seorang pemudi tapi mengurungkan maksudnya gara-gara tidak tega meninggalkan ibunya seorang diri di rumah, yang kebetulan seorang janda, berarti ia tidak mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan maksudnya. Masih ada banyak contoh lain lagi.

Kita hendaknya belajar dari Yesus sendiri. Betapa Ia mengasihi Bapa-Nya di surga, namun mau meninggalkan Surga dengan segala kemuliaan-Nya, hanya untuk datang ke dunia demi melaksanakan tugas perutusan dari Bapa-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Yesus mau melepaskan segala milik dan kemuliaan-Nya. Ia mau mengosongkan diri-Nya.

Bila kita benar-benar mau menjadi murid Yesus demi Kerajaan Surga, kita harus mau dan berani meninggalkan dan melepaskan semua harta milik kita dan menggantikannya dengan Yesus sendiri. Kita harus mengosongkan diri kita dan mengisinya dengan Yesus sendiri. Santo Ignasius Loyola pernah berkata: “Tujuan manusia diciptakan adalah memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya”. Untuk mencapai tujuan ini, ada satu sikap yang ditekankan, yakni sikap lepas bebas (indefferent) yang dilawankan dengan sikap “lekat tidak teratur”. Sikap “lekat tidak teratur” ini dapat dimaknai sebagai kecenderungan untuk terlalu bergantung pada sesuatu, termasuk juga seseorang, demi kepentingan diri sendiri. Bagaimana dengan kita? Apakah mau seperti pemuda kaya yang disuruh Yesus menjual semua hartanya dan mengikuti-Nya, namun tidak mau karena hartanya banyak? (Mat 19:21).

Jika kita mau mengikuti Yesus, kita harus melupakan atau meninggalkan semua keinginan kita demi kenyamanan hidup di dunia ini. Melupakan semua keinginan kita berarti suatu pengurbanan atau salib. Yesus juga berkata bahwa jika kita tidak memikul salib kita dan mengikuti-Nya, kita tidak layak bagi-Nya. Lebih lanjut Yesus berkata: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”. Dengan kata-kata itu Yesus bermaksud bahwa jika kita lebih mementingkan hidup kita di dunia yang menawarkan segala kenyamanan dan kenikmatan, kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh hidup kekal kelak. Perkataan Yesus pada kesempatan lain berikut ini mendukung apa yang Ia katakan dalam Injil hari ini, yaitu: “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:29). Tentang hal ini, St. Paulus berkata: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab, aku menganggap bahwa penderitaan-penderitaan yang kita alami sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18).

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...