HENDAKLAH KITA BAIK KEPADA SEMUA ORANG

Kamis 11 Agustus 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 18:1-5,10,12-14)

Seorang bayi sejak lahirnya di dunia ini dipelihara, diasuh, dibesarkan, dan dididik oleh orangtuanya agar menjadi seorang dewasa yang diharapkan dapat hidup dengan layak dan baik lahir bathin; tercukupi segala kebutuhan hidupnya tanpa kurang suatu apa pun. Selain itu ia juga diharapkan dapat hidup di dalam masyarakat dengan nama baik, terpandang, kedudukan tinggi serta atribut-atribut lain yang membuat orang menaruh hormat padanya. Hal ini lumrah terjadi pada hampir setiap keluarga dan setiap bangsa, lebih-lebih bangsa yang menganut sistem patriarkat dimana seorang laki-laki lebih memiliki privilese daripada seorang perempuan, seperti bangsa Yahudi.

Tema Injil hari ini berkaitan dengan kedudukan seorang laki-laki dalam masyarakat bangsa Yahudi pada jaman Yesus. Dikisahkan murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Pada waktu itu bangsa Yahudi sedang menantikan seorang Mesias, utusan Allah yang datang ke dunia untuk memimpin bangsa Yahudi guna membebaskan diri dari penjajahan bangsa Romawi. Murid-murid menyangka bahwa Mesias yang demikian itu adalah Yesus. Tetapi Yesus, yang adalah Mesias yang harus menderita untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan dosa, terprovokasi oleh pertanyaan para murid itu, karena ajaran-ajaran yang pernah Ia sampaikan kepada para murid-Nya berarti belum sungguh mereka pahami

Ia lalu memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Seorang anak kecil mempunyai sikap polos dan tulus: oleh karenanya ia antara lain hormat dan menaruh kepercayaan pada orang dewasa dan tidak mengandalkan diri sendiri.

Anak kecil yang dimaksudkan Yesus bukan saja anak-anak yang masih kecil, tetapi juga orang-orang yang tersingkir dalam masyarakat karena sesuatu yang ada pada mereka dihindari orang, seperti penyakit, kemiskinan, kebodohan, dan lain sebagainya. Mereka dianggap tidak penting dalam masyarakat, lebih-lebih oleh mereka yang mempunyai kekuasaan. Yesus hendak menyampaikan bahwa jika seseorang ingin menjadi yang terbesar di dalam Kerajaan Surga, haruslah ia mau menerima mereka yang tersingkir dalam masyarakat karena Allah sangat menghargai martabat setiap orang dalam kondisi apa pun. Allah menghendaki setiap orang selamat dan hidup bahagia di surga kelak.

Lalu Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seratus ekor domba, dan seekor di antaranya tersesat. Gembala akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu hingga ditemukan. Setelah menemukan domba yang hilang, kegembiraan sang gembala itu lebih besar daripada kegembiraannya atas 99 domba yang tidak hilang atau tersesat. Baginya, satu ekor domba juga tidak ternilai. Ia tidak rela kehilangan walau hanya satu ekor.

Semoga kita dapat belajar dari Yesus bahwa hendaknya kita mau menerima dan mengasihi siapa saja sebagai sesama ciptaan Tuhan, dan karena semua orang adalah keluarga besar Allah. Allah sendiri mengasihi semua orang tanpa membedakan seperti bunyi  Mazmur 145:9: TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...