IMAN YANG MENYEMBUHKAN

Jumat 26 Mei 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 8:1-4)

Tak terhitung berapa kali kita telah berdoa Bapa kami hingga hari ini. Kalimat-kalimat pertama berisikan pujian dan harapan kita kepada Allah agar hanya kehendak Allah saja yang terjadi pada diri kita sepanjang hari. Dan kalimat-kalimat berikutnya hingga akhir berisikan permohonan-permohonan kita agar apa yang terjadi pada diri kita dan yang kita lakukan sesuai dengan kehendak Allah. Kita terkadang lupa bahwa dibawah sadar kita terdorong mengajukan permohonan-permohonan kita menurut kemauan kita, meskipun tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.

Dikisahkan dalam Injil hari ini seorang penderita kusta mendekati Yesus, berlutut dan berkata; “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Tergerak hati-Nya oleh belas kasih, Yesus menjamah orang sakit itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu sembuhlah orang itu dan Yesus menyuruhnya pergi guna memperlihatkan dirinya kepada imam dan mempersembahkan sesuatu atas kesembuhannya seperti diperintahkan Musa sebagai bukti dan melarangnya untuk tidak mengatakan perihal itu kepada siapapun juga. Tapi orang itu tidak mengindahkan larangan Yesus. Ia bercerita tentang peristiwa itu kepada siapa saja sehingga menghalangi Yesus untuk terang-terangan masuk ke kota.

Yang menarik dalam peristiwa itu ialah bahwa baik Yesus maupun orang sakit kusta itu sama-sama melanggar hukum agama pada waktu itu, yaitu bahwa jika orang sehat menyentuh orang sakit, ia ikut menjadi najis dan sebaliknya, jika orang sakit menyentuh orang sehat, ia akan menajiskan orang yang sehat itu. Yesus melanggar hukum karena Ia berbelas kasih kepada orang yang sakit itu dan si penderita kusta itu melanggar hukum karena imannya pada kuasa Yesus sungguh luar biasa besar. Ia sungguh mau berkomunikasi dengan Yesus. Kedua, Yesus mau menerima orang yang disingkirkan masyarakat karena ia juga anak Allah, anggota keluarga besar  Allah, sesama saudara-Nya. Ketiga, orang yang sakit kusta itu, meski ingin disembuhkan Yesus, ia memulai perkataannya dengan “Kalau engkau mau”. Ini berarti bahwa ia ingin agar keinginannya untuk disembuhkan berkenan kepada Yesus. Ia ingin agar kemauannya disetujui oleh Yesus. Semuanya ia serahkan kepada Yesus, meski sangat besar keinginannya untuk sembuh. Bagi Yesus, yang terpenting bukan bahwa Ia telah menyembuhkan orang yang sakit kusta itu, tetapi dengan iman yang besar kepada-Nya, orang yang telah disembuhkan-Nya itu lalu mengikuti-Nya menjadi murid-Nya untuk mewartakan kuasa Allah dalam mukjizat. Yesus tidak menghendaki popularitas murah.

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...