KITA 100 PERSEN KATOLIK DAN 100 PERSEN INDONESIA

Senin 17 Agustus 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 22:15-21)

Sudah bukan merupakan rahasia lagi pada jaman Yesus bahwa orang-orang Farisi adalah musuh bebuyutan Yesus karena kemunculan-Nya sebagai Mesias yang mengajar dengan wibawa dan kuasa Allah telah mengganggu reputasi mereka. Mereka takut kehilangan simpati dan hormat dari masyarakat. Untuk memojokkan Yesus agar tidak semakin populer, mereka sering menjebak Yesus dengan pertanyaan-pertanyaan agar dapat mereka ajak untuk berdebat. Selain mereka, musuh-musuh Yesus yang lain adalah Herodes dengan orang-orangnya karena ia khawatir suatu saat Yesus akan memberontak terhadapnya. Herodes adalah raja boneka pemerintahan penjajah bangsa Romawi di Palestina.

Diceritakan dalam Injil hari ini orang-orang Farisi menyuruh murid-murid mereka bersama-sama dengan orang-orang Herodian atau pengikut-pengikut Herodes untuk menemui Yesus guna menjebak-Nya dengan mengajukan pertanyaan apakah mereka boleh membayar pajak kepada kepada Kaisar. Mereka hanya mau mencari kesalahan Yesus dan akhirnya mempunyai alasan untuk membunuh-Nya. Yesus mengetahui itu bukan pertanyaan yang serius karena Ia yakin bahwa mereka sebetulnya sudah tahu bahwa yang berkuasa pada waktu itu adalah kaisar dan sudah semestinya mereka membayar pajak. Maka Yesus tidak menjawab karena tidak ada gunanya. Sambil memperlihatkan mata uang dinar yang bergambar Kaisar, Yesus berkata bahwa mereka tidak hanya boleh tetapi wajib membayar pajak kepada Kaisar. Sekalian Yesus menambahkan bahwa selain memberi kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, mereka juga wajib memberi kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Dalam hal ini Yesus ditanya mengenai pajak dan politik dan jawaban Yesus mengarahkan mereka kepada kepemilikan. Mereka tidak boleh mengambil sesuatu yang menjadi milik seseorang. Apa yang menjadi milik Kaisar harus diberikan kepadanya dan apa yang menjadi milik Allah harus diberikan kepada Allah. Yesus hendak mengajarkan kejujuran, kewajiban dan sekaligus keadilan kepada mereka.

Berbicara tentang milik, kita mungkin merasa bahwa kita tidak bebas karena kita merasa dikontrol dan dikuasai pihak lain. Kita lebih suka ada di pihak yang mengontrol atau menguasai, misalnya uang yang menjadi milik kita, ingin kita gunakan sekehendak hati kita. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Allah yang menciptakan kita. Kita tidak bisa menguasai diri kita. Allahlah yang menguasai diri kita. Hidup dan mati bukan kekuasaan kita. Allah yang maha kasih yang menguasai hidup kita dan kita adalah milik-Nya. Allah tidak sekedar menguasai hidup dan mati kita tetapi lebih dari itu, Ia mengasihi kita dan kasih Allah itu menyelamatkan. Maka kita wajib memberikan diri kita kepada Allah. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Menjadi milik Allah berarti kita menjadi milik satu sama lain dan untuk itu harus mengasihi satu sama lain. Kita juga harus memberikan apa yang menjadi milik orang lain. Misalnya memberi kepada mereka yang miskin dan siapa saja yang memerlukan bantuan kita. Itulah yang dinamakan keadilan.

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...