Masalah-Masalah dalam Keluarga Katolik

Maukah Orangtua Menawarkan Pada Anaknya?

Suatu hari, saya dan istri berbincang tentang masa depan dua anak saya, laki-laki dan perempuan yang keduanya masih SMP. Saya dan istri sepakat akan menanyakan kedepannya mereka ingin menjadi apa. Pada saat makan bersama di Warung Langgeng Rejo di halaman parkir samping Gereja Bahtera Kasih, setelah kedua anak saya tugas Putra Altar, saya menanyakan “Nak, setelah jadi Putra Altar sekian lama, tertarikkan Christo menjadi Romo dan Yosephin jadi suster? Papa dan Mama bangga kalau kedua anak papa mama mau hidup bakti sebagai Romo dan Suster, atau paling nggak ada salah satu. Mengapa? Karena kamu berdua itu putra-putri Allah yang dititipkan pada papa mama. Jadi ya sangat mulia kalau mengikuti yang memiliki kalian. Papa mama mengingatkan dan mendorong untuk itu dan agar jauh-jauh hari bisa direnungkan ya… Semakin sering kalian dekat dengan Romo dan Suster, semakin kuat keinginan untuk itu”.

Salah satu keluarga yang putrinya terpanggil menjadi biarawati – suster mengusulkan bagaimana kalau para Suster, Bruder dan Frater, diberi kesempatan untuk Live in, tinggal beberapa waktu, paling tidak tinggal semalam dalam suatu keluarga yang putra-putrinya mempunyai benih panggilan.

Dalam live in tersebut, para biarawan-biarawati tinggal bersama sebagai keluarga, bukan sebagai tamu, sehingga dalam tinggal bersama tersebut ikut bersama kegiatan keluarga itu, ya masak bersama, bersih-bersih rumah bersama, ngepel bersama, nonton TV bersama, berdoa bersama dan lainnya. Dengan berinteraksi langsung, anak-anak dalam keluarga tersebut dapat lebih dekat dengan sosok baiarawan dan biarawati, bisa menjadi magnet yang sangat kuat untuk memotivasi mereka. Anak-anak juga dapat menanyakan hal hal yang berkaitan panggilan hidup bakti. Para biarawan-biarawati juga kan lebih bersemangat dalam menjalani hidup baktinya karena merasakan betapa banyak keluarga dan umat yang sangat membutuhkan kiprah mereka.

Banyak Romo, Bruder dan suster menyatakan bahwa mereka serius menjalani hidup bakti berkat tawaran, anjuran dan dorongan orangtua. Tekad dan proses menjalani hidup bakti itu sebesar harapan dan dorongan orangtua dan keluarganya. Sedemikian kuatnya pengaruh tawaran dan dorongan orangtua dan keluarga mereka membuat mereka lebih tekun dan mantap menyelesaikan proses pendidikan hingga mencapai kaul kekal.

Sering kita dengar cerita doa seorang umat yang mohon pada Tuhan agar banyak yang dipanggil dan akhirnya dipilihNya menjadi biarawan/biarawati, asal bukan anaknya. Banyak juga yang mengomentari orangtua tersebut sebagai orangtua yang egois, takut masa tuanya tidak ada yang merawat, juga takut anaknya nanti mengalami banyak kesulitan dalam hidup baktinya. Kiranya umat seperti itu lupa bahwa Tuhan selalu campur tangan dan mengatur kehidupan umatnya, jadi apa yang dikawatirkan lagi?

Tahun Hidup Bakti yang dicanangkan Gereja mulai 30 November 2014 sampai 2 Februari 2016 akan segera berakhir, namun usaha aksi panggilan Hidup Bakti tetap berlangsung dalam keluarga masing-masing. Bagimana dengan kita sendiri sebagai orangtua khususnya, maukah menawarkan bahkan mempromosikan hidup bakti pada anak-anak kita ? Beberapa umat menyatakan mau dan sanggup lakukan itu, siapa takut? semoga..

Oleh Widhie Tjahjanto

You may also like...