MELAKSANAKAN PERATURAN DENGAN KASIH

Selasa 04 Agustus 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 15:1-2, 10-14)

Dalam masyarakat Jawa ada ungkapan “Nguri-uri budaya” yang artinya “memelihara atau merawat budaya atau tradisi. Kebiasaan ini ada pada setiap suku bangsa di Indonesia, yang bertujuan baik, yaitu usaha untuk melestarikan tradisi atau budaya yang diturunkan sebagai warisan dari nenek-moyang. Merawat agar suatu budaya tetap hidup merupakan usaha yang baik, apalagi bila dikaitkan dengan masalah kerohanian karena menyangkut iman orang-orang kepada Tuhan. Mereka yakin bahwa merawat budaya yang ada kaitannya dengan iman kepada Tuhan adalah hal yang baik karena dengan melakukan hal itu mereka dapat memuji dan memuliakan Tuhan.

Dalam Injil hari ini diceritakan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menegur Yesus, mengapa murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan. Tidak membasuh tangan sebelum makan mereka katakan sebagai hal yang najis. Masih banyak lagi peraturan yang mereka jalankan seperti tertulis dalam Kitab Taurat. Ada 613 hukum, 365 di antaranya bersifat larangan dan 248 lainnya merupakan keharusan ini dan itu. Mereka sungguh-sungguh melaksanakan semua keharusan dan menghindari semua larangan itu dengan sangat teliti. Menepati semua peraturan itu berarti menjalankan hidup yang saleh. Kehidupan beragama dalam arah ini diukur dengan pelaksanaan hukum. Sering orang terpaku pada gagasan apakah sudah betul dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Tujuan mereka ialah mengharapkan pahala dengan menepati semua larangan dan peraturan dalam Taurat. Namun dalam hal ini mereka tidak melibatkan hati. Ini yang membuat hati mereka menjadi degil dan keras.

Yesus menjawab dengan mengatakan bahwa mereka munafik sambil merujuk perkataan nabi Yesaya: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”. Hidup keagamaan mereka hanya untuk menepati hukum-hukum dalam Taurat.

Yesus hendak mengajarkan agar kita melihat roh di balik hukum, yaitu kasih.Tentang hal ini Santo Paulus berkata: “Perjanjian baru tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh; sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6).

Permenungan bagi kita: Apakah kita juga menjalankan peraturan atau hukum keagamaan secara kaku bagaikan robot dengan tidak melibatkan hati kita, sebab kita lebih mementingkan formalitas dan legalitas hukum tanpa menyertainya dengan kasih?

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

You may also like...