MELANDASI KASIH DALAM MENJALANKAN PERATURAN TUHAN

Selasa 25 Agustus 2020

Renungan sabda Allah. (Matius 23:23-26)

Ketika suatu undang-undang atau hukum dibuat, pasti ada sesuatu yang menjadi dasarnya. Dasar itu melandasi tujuan dibuatnya hukum itu. Misalnya, Pancasila dibuat sebagai dasar falsafah negara Indonesia dengan tujuan agar ia berfungsi untuk mengatur sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara agar bangsa dapat sejahtera dan eksis selamanya. Menurut Bung Karno, inti atau jiwa Pancasila ialah Gotong Royong. Setiap sila dari Pancasila mengandung hakekat kegotong-royongan ini. Demikian pula halnya dengan Hukum Taurat. Ia dibuat untuk mengatur sendi-sendi kehidupan bangsa Israel agar dapat hidup dengan baik, utamanya agar mereka dapat memuliakan Allah. Inti Hukum Taurat ialah kasih, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.

Injil hari ini mengisahkan perseteruan antara Yesus dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Seperti dalam Injil beberapa hari yang lalu, Yesus dalam perikop Injil hari ini dua kali mengutuk mereka karena kemunafikan mereka. Mereka begitu disiplin, tertib, dan cermat dalam menjalankan setiap butir Hukum Taurat itu, namun tidak memahami dan menghayati inti dasar Hukum Taurat itu. Mereka menafsirkan Hukum Taurat menurut kemauan dan hanya demi kepentingan mereka sendiri dan hal itu membuat sesama mereka menjadi obyek penderita. Mereka menyalahgunakan dan memutar-balikkan hukum Taurat. Keadilan dan kasih yang seharusnya menjadi jiwa dari hukum itu tidak mereka laksanakan. Mereka mengajarkan hukum tetapi melaksanakannya tidak sesuai dengan tujuan hukum itu. Pada intinya yang Yesus kecam ialah ketidaksatuan antara perkataan dan perbuatan mereka.

Sampai dua kali Yesus mengatakan “Celakalah kamu” kepada ahli Taurat dan orang- orang Farisi itu karena saking geram-Nya. Perkataan Yesus yang paling keras ialah: “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tepiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” Perkataan ini sungguh sangat keras. Perkataan Yesus yang keras ini dapat pula terjadi berulang kepada diri kita sekarang ini bila kita juga munafik seperti orang-orang Farisi itu. Misalnya kita berkata “Dalam nama Tuhan Yesus” ketika melakukan sesuatu, tapi kita melupakan belas kasih karena melaksanakan sesuatu perintah atau hukum Allah tanpa kasih hanya berarti pemujaan berhala. Tidak cukup hanya tidak melakukan sesuatu yang dilarang, misalnya jangan mencuri dan jangan menginginkan milik sesama. Yang lebih penting ialah kemauan untuk menghilangkan sampai ke akar-akarnya keinginan akan perbuatan itu. Pemenuhan suatu hukum Allah hanya terletak pada pelaksanaan kasih.

Renungan oleh Pak Chris Nugroho

Seksi Katekese PJGRR

 

 

You may also like...