MENJELANG RAPAT KARYA 2018 DEWAN PAROKI PLENO – Part 2

BERUBAH ATAU PUNAH!

Statement singkat di atas barangkali sudah sering kita dengar, namun kadang tanpa pretensi apapun. Mungkin karena statement tersebut muncul dalam sebuah artikel koran, dalam lirik lagu, dalam tagline seminar motivasi, dll. sehingga seolah-olah tak ada kaitannya dengan aktivitas kita sehari-hari. Sehingga kita tenang-tenang saja. Misalnya saat ada pembahasan tentang digitalisasi, peran generasi milenial, hingga revolusi industri 4.0.

Namun kini, suka tidak suka, kita harus menyadari bahwa statement tersebut benar-benar nyata di sekitar kita, bahkan ada di depan mata kita. Termasuk, tentu saja, persoalan-persoalan yang mengemuka di paroki Jagakarsa tercinta.

Dalam forum sosialisasi Raka 2018 di SD Desa Putera, Minggu 16 Sept 2018 lalu, sudah dijelaskan beberapa persoalan mendasar yang membelenggu di paroki. Selain persoalan-persoalan pokok seputar keimanan, katekese, kebiasaan berdoa dan membaca Kitab Suci, serta kepemudaan, ternyata ada persoalan-persoalan klasik yang selama ini menghambat program-program pelayanan umat. Selain nilai-nilai positif yang terangkum dalam kehidupan umat paroki, ternyata ada juga fakta-fakta negatif yang perlu ditangani.

Nilai-nilai positif yang merupakan kekuatan paroki kita adalah suasana guyub, kekeluargaan, kompak, kuat dalam perjuangan, penuh rasa syukur, dominannya usia produktif dan karena memiliki 2 kapel. Sedangkan fakta-fakta negatif yang membebani adalah adanya pandangan bahwa paroki kita dikenal sebagai paroki yang belum kompeten, belum professional, dan kondisi keuangannya minim.

Nilai-nilai positif harus makin diperkuat, sebaliknya nilai-nilai negatif harus dikikis habis. Jika nilai-nilai negatif dibiarkan tanpa disentuh, maka bukan mustahil seluruh nilai-nilai positif akan sirna dan habis, punah tanpa bekas.

Jika dicermati dengan baik, tampak bahwa nilai-nilai negatif ini sangat terkait dengan perkembangan jaman. Artinya, paroki Jagakarsa belum bisa menjawab perkembangan jaman. Atau dengan istilah lain, tatakelola paroki Jagakarsa belum memasuki modernitas. Modernitas secara sempit bisa dimaknai dengan digitalisasi dan profesionalitas.

Dalam buku “Berubah atau Punah” karya FX Afat Adinata dan Kevin Wu (2017), disebutkan bahwa untuk tidak punah maka tiap orang harus berubah. Ada beberapa peran yang bisa dilakukan untuk menghadapi perubahan ini yaitu sebagai change maker (orang yang terus bergerak maju melakukan perubahan ke arah yang lebih baik), change adapter (orang yang berhasil bertahan menghadapi berbagai perubahan dan bahkan menjadi lebih baik karena berhasil melalui perubahan itu), dan change quitter (orang yang tak sanggup menghadapi perubahan dan memilih menyerah).

Monggo, ayo, kita bersama-sama menjadi change maker dan change adapter untuk menuju ke suasana tatakelola paroki yang lebih baik. Tuhan memberkati. (SPH)

admin

"Hidup ini seperti pensil yang pasti akan habis, tetapi meninggalkan tulisan-tulisan yang indah dalam kehidupan"

You may also like...