Menuju Habitus Baru

Tahun ini, perayaan Kamis Putih di Kapel Desa Putera maupun di Kapel Bahtera Kasih dirasa sangat berbeda dari perayaan di tahun-tahun sebelumnya. Dengan tidak adanya lagi buku panduan dalam misa membuat umat bisa merasakan kekhidmatan dalam menjalani perayaan Kamis Putih ini. Seperti yang di ungkapkan oleh saudara Ardo dari Wilayah Yohanes bahwa umat bisa lebih focus dan khusuk dalam mengikuti misa namun apalagi dengan dibantunya beberapa tampilan slide berisi bacaan maupun lagu-lagu dalam perayaan kamis putih. Selain itu dari kalangan muda OMK, Nasco dan Denta dari wilayah Filipus juga mengungkapkan, merasa perbedaaan dalam misa ini dirasa lebih hemat dan praktis karena mengurangi penggunaan kertas dalam mengikuti misa sehingga umat bisa benar-benar merasakan kehadiran Tuhan dalam tiap perayaan Ekaristi. Berbagai persiapan yang tidak hanya di lakukan oleh panitia dalam perayaan Pekan Suci tahun ini. Bapak Yopie dari lingkungan Yusuf 3 melakukan persiapan dari masa Prapaskah dengan menjaga sikap dan perilaku. Beliau mencoba untuk lebih baik sebagai imam di keluarga dengan melayani keluarga. Mendoakan mereka dan mencoba mendengarkan keluh kesah anggota keluarga.

KAMIS PUTIH

Misa Kamis Putih Pertama di Kapel Desa Putera dipimpin oleh romo Edy, dengan iringan pujian dari koor wilayah Bartolomeus. Dalam kotbahnya Romo Edy menjelaskan dua simbol dalam perayaan Kamis Putih, yaitu Pembasuhan kaki dan perjamuan terakhir. Dalam dua peristiwa tersebut kita diajak untuk mampu merendahkan diri dalam melayani Tuhan dan sesama. Dalam setiap perjamuan Ekaristi, Yesus selalu hadir dalam rupa roti dan anggur yang merupakan simbol dari segala pengorbanannya melalui Tubuh dan Darah ketika wafat di kayu salib.

Tindakan Yesus membasuh kaki merupakan tindakan simbolis yang melambangkan penyerahan diri, pembersihan, pengampunan, pembaharuan, kemuridan dan ibadah. Penyerahan diri yang dimaksudkan adalah penyerahan diri Yesus dalam kematian untuk "menebus dosa/membersihkan" orang lain. Pembasuhan kaki yang Yesus lakukan juga menyimbolkan kerendahan hati dan keinginan untuk menjadi "hamba" yang mau melayani orang yang hina sekali pun. Terdapat simbol bagi kita sebagai seorang kristiani atau pengikut kristus. Simbol ikan yang biasa disebut ichtus yang artinya Iesous Christos, Theou Uios, Soter yang berarti Yesus Kristus, Putra Allah, Sang Penyelamat. Simbol ini semakin menunjukan kita sebagai seorang kristiani yang adalah pengikut Kristus.

Jadi sebagai pengikut kristus kiranya kita dapat meneladani Yesus supaya keimananan kita semakin bertumbuh dan berkembang menjadi pengikut Kristus sejati. Semoga kita bisa meneladani Tuhan dengan cara yang lebih baik tiap harinya.

Perayaan misa Kamis Putih kedua dipimpin oleh Romo Tarno dengan iringan pujian koor dari lingkungan Filipus 1. Dalam kotbahnya Romo Tarno menjelaskan bahwa pengorbanan Yesus kepada murid-muridNya menjadi teladan yang baik bagi kita pengikut setiaNya. Hal penting yang harus kita ingat dalam prosesi pembasuhan kaki yaitu kita jangan berhenti menjadi pelayan bagi Gereja dan sesama saat kita merasa sudah memiliki rasa puas. Simbol tubuh dan darah kristus merupakan bukti kecintaanNya kepada kita. Kita harus semakin menunjukan juga besarnya cinta kita kepada Tuhan setiap saat dengan semangat berkobar dalam melakukan pelayanan dengan rasa tak pernah berkeluh kesah. Berkobar mencintai Allah walaupun banyak cobaan yang menggagalkan segala niat baik kita dalam menjadi pelayan yang baik bagi Tuhan dan sesama.

JUMAT AGUNG

Ibadat Jumat Agung yang digelar di Kapel Desa Putera, Misa pertama pukul 15.00 yang dipersembahkan oleh Romo Irawan dan Misa kedua dipersembahkan oleh Romo Edy, dalam kotbahnya sama-sama mengajak umat untuk dapat meneladan cinta kasih Yesus Kristus. Cinta kepada Allah dan sesama. Kita pun diajak untuk berani menerima dan mencintai salib Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan seperti halnya Yesus yang mengorbankan diri-Nya di kayu salib, semoga kita pun semakin rela berkorban bagi sesama kita, bagi keluarga, masyarakat dan Gereja.

VIGILI PASKAH

Suasana hening dan khusyuk mengawali jalannya misa malam Vigili Paskah di Kapel Desa Putera. Misa pertama pukul 17.30 dipersembahkan oleh Romo Irawan dan dihadiri sekitar 1.500 umat. Proses penyalaan lilin Paskah berlangsung dengan khidmat. Suasana meriah nampak saat lagu Kemuliaan dikumandangkan dan semua listrik dinyalakan. Sungguh, malam penantian kebangkitan yang sangat dinantikan. Kebangkitan Yesus yang mengalahkan kematian. Misa kedua pukul 21.30 dipersembahkan oleh Romo Tarno. "Niat baik terkadang dihadapkan dengan tawar-menawar. Tawaran yang sangat menggoda kita untuk terjerumus dalam dosa. Terkadang kegelapan pun membuat kita menerka-nerka sehingga kita nekat untuk berbuat dosa", ujar Romo Tarno mengawali kotbahnya. "Dengan kebangkitan Kristus, maka mulai malam ini kita menuju habitus baru, bukan untuk diri kita sendiri, namun juga untuk kebaikan orang lain", tegas Beliau yang menjabat sebagai Pastor Kepala. Malam itu juga diperkenalkan Baptisan dewasa yang telah dibaptis pada Rabu (23/3/2016).

MINGGU PASKAH

Perayaan Kebangkitan Tuhan pada perayaan Paskah Anak yang dipersembahkan oleh Romo Tarno disambut dengan sorak-sorai. Anak-anak dengan sukacita menyaksikan drama Kebangkitan Tuhan yang dimainkan oleh teman-teman mereka dari kelompok Bina Iman Anak.

Dalam kotbahnya Romo Tarno berpesan kepada para orangtua, "Anak-anak ini telah dirancang sedemikian rupa oleh Tuhan akan masa depannya. Jangan pernah terpancing dengan macam-macam hal untuk mengakhiri hidup berumah tangga". Lebih lanjut Pastor Kepala Paroki Jagakarsa ini mengatakan, "Orangtua memang sudah selayaknya bekerja bagi keluarga yang dicintainya, namun jangan gila kerja. Ciptakan relasi yang baik dengan anak-anak. Karena Tuhan telah mempercayakan mereka kepada orangtua".

Usai misa acara dilanjutkan dengan lomba Paskah bagi anak-anak dan keluarga. Semua anak mendapatkan bingkisan Paskah. Mereka semua bergembira bersama. Suasana kekeluargaan dibangun dalam lomba Paskah.

Selamat Paskah. Tuhan memberkati.

  • Deni/komsos

You may also like...