MINGGU PALMA: MENYAMBUT MESIAS YANG AKAN BERKORBAN

Hari ini kita mengawali Pekan Suci dengan merayakan Minggu Palma. Perayaan ini disebut Minggu Palma karena kita mengenangkan Yesus yang memasuki kota Yerusalem dan dielu-elukan oleh khalayak ramai dengan membawa daun palma. Konon, daun palma merupakan simbol kemenangan dan sering digunakan untuk menyatakan kemangan para martir. Maka, kalau sekarang kita menggunakan daun palma, itu karena kita menyongsong kemartiran Kristus yang mendatangkan kemenangan atas dosa dan kematian.

Hari-hari retret agung yang dijalani Gereja sejak Hari Rabu Abu yang lalu bermuara dan mencapai puncaknya dalarn Pekan Suci ini. Sebelum merayakan Trihari Suci, hari ini kita merayakan Hari Minggu Palma. Perayaan hari ini bersisi ganda; bagian pertama berwarna “terang cerah” untuk mengenangkan peristiwa masuknya Yesus ke Kota Yerusalem, lalu menyusul bagian kedua bernuansa “gelap kelabu” untuk mengenang Sengsara Tuhan dan untuk itu dibacakan kisah passio.

Pada bagian pertama, sejauh kondisi sosial masyarakat setempat memungkinkan, dibuat upacara perarakan dari luar gereja memasuki gereja sambil umat melambaikan daun palma. Latar-belakang pemakaian daun palma ini ditemukan dalam Yoh_ 12:13; pada Injil Sinoptik, misalnya Luk. 19:35-36 hanya dikatakan orang banyak menghamparkan pakaian di jalan untuk dilewati Yesus yang datang dengan keledai Dalam tradisi Yahudi, daun palma menjadi simbol kemenangan sekaligus ungkapan pengharapan besar bahwa Yesus inilah Sang Mesias yang sudah lama dinantikan; Dia akan menjadi Raja yang akan mengantar kepada kejayaan di bidang politik dan militer, Maka kepada Yesus diarahkan seruan pekikan”Hosanna Sang Raja…”.

Menyusul bagian upacara yang kedua dengan fokus Injil yakni pembacaan passio (kisah sengsara Tuhan). Baru saja khalayak ramai mengelu-elukan Yesus sebagai Raja, tidak lama sesudahnya Yesus ditolak mentah-mentah oleh massa yang sama. Mereka ramai-ramai menjadikan Yesus sebagai “pesakitan”. Perhentian demi perhentian menandai perjalanan derita dan salib Tuhan. Semua pihak kompak bersatu dalam ujaran kebencian dan pekikan hujatan “salibkan Dia, salibkan Dia.”
Demikianlah sikap dasar kita manusia, dapat begitu cepat berubah bagaikan arah angin. Sementara Allah dengan kasih karunianya yang tak pernah berkesudahan terus melimpah ruah demi penebusan dan keselamatan kita manusia. Mari kita mengikuti jejak Tuhan kita, kita belajar mengasihi tanpa batas dan tidak pamrih!

You may also like...