Rabu Abu “Abu Sebagai Tanda Pertobatan”

 

Rabu Abu adalah saat dimana kita memulai masa Pantang dan Puasa, masa untuk pertobatan sejati, masa untuk memperbaharui diri, untuk refleksi, sebagai persiapan untuk menerima Yesus yang bangkit pada hari Raya Paskah di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah.

 

Romo Irawan, MSF

Romo Irawan, MSF memberkati abu dengan air suci pada misa Rabu Abu (10/2/2016)

Perayaan ekaristi Rabu Abu di paroki kita, di Kapel Bahtera Kasih yang diselenggarakan pada pukul 12.00 dan 17.30,sedangkan di Kapel Desa Putera pukul 05.45, 17.30 dan 20.00, mendorong umat paroki memenuhi panggilan Allah guna mempersiapkan diri menyambut kebangkitan Kristus yang rela mati di kayu salib menebus dosa umat manusia. Masa pantang dan puasa merupakan masa pertobatan. Masa dimana kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dengan kerendahan hati dan pikiran kita untuk menerima Yesus. “Semua orang beriman kristiani menurut cara masingmasing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi” (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan 

waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang”. Semua orang beriman diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup dan mengadakan pembaharuan untuk semakin setia dengan murid Yesus. 

Pelaksanaan misa Rabu Abu di Kapel Desa Putera,  Rabu (10/2/2016) pada pukul 17.30 dipersembahkan oleh Romo Irawan, MSF. Diawal misa Beliau memberkati abu yang telah dipersiapkan. Dengan tertib umat berbaris untuk mendapatkan abu pertobatan didahi mereka. Usai prosesi pemberian abu, misa dilanjutkan dengan liturgi sabda. Bacaan yang diambil dari Injil Matius tentang perumpamaan memberi sedekah. "Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu  apa yang diperbuat tangan kananmu" (Mat 6:3) – dikatakan juga, "Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnyapadamu" (Mat 6:17-18)

Prosesi pemberian abu di dahi umat pada misa Rabu Abu pk. 17.30 di Kapel Desa Putera.

Saat homili, Romo Irawan MSF mengatakan bahwa Rabu Abu mengingatkan kita bahwa kita sebagai manusia yang diciptakan Allah berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. "Pantang dan puasa yang kita jalani ini tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun lebih ditekankan kepada menahan diri dan mendekatkan hati kepada Tuhan yang bermuara kepada pertobatan sejati", tegas Romo yang menggemari vespa antik ini.
Selamat menjalankan masa pantang dan puasa di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Tuhan memberkati kita semua.


corn.budi/wu
 

 


 


 

admin

"Hidup ini seperti pensil yang pasti akan habis, tetapi meninggalkan tulisan-tulisan yang indah dalam kehidupan"

You may also like...