Tuhan Melihat Hati, Bukan Kehebatanmu

Ada seorang pemuda bernama David. Ia merupakan pemuda yang sudah bekerja, masih mengenyam pendidikan di salah satu Universitas dan juga aktif di Gereja. Ia senang melakukan pelayanan tersebut, bukan karena di kenal banyak orang, melainkan karena ia mendapatkan sukacita yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia sungguh-sungguh bersyukur dengan apa yang ia alami saat itu. Awalnya ia hanya mengikuti pelayanan sebagai lektor dalam misa, tetapi kemudian temannya mengajak ia untuk masuk ke dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK). David merasa senang juga karena ia dapat kenal dengan teman-teman yang seumuran dengan dia dan memiliki pola pikir yang sama pula.

Suatu hari di Gereja ada info di mading untuk menjadi volunteer dalam kegiatan Umat Bekebutuhan Khusus (UBK). David merasa ingin mengikuti dengan menjadi volunteer dalam kegiatan tersebut. Alasan ia mengikuti itu karena ia ingin merasakan pula kasih Allah yang ia terima melalui kegiatan itu dan dapat ia bagikan dengan teman-teman UBK. David mendaftar menjadi volunteer dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatannya. Selama mengikuti, David merasakan sukacita yang lebih karena ia sungguh mensyukuri dengan apa yang Tuhan berikan kepadanya selama ini. Bahkan sering kali, ia tidak bisa menahan air matanya karena ia mendapatkan semangat baru dari teman-teman baru nya itu.

Setahun berjalan, David mulai merasakan sulit membagi waktu antara pekerjaan, waktu kuliah dan pelayanannya. Ia merasa pekerjaan dan kuliahnya merupakan sesuatu yang harus ia kerjakan dan selesaikan, tetapi di lain sisi ia juga senang melakukan pelayanannya. Ia merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk saat ini? Kemudian David menceritakan hal itu kepada salah seorang yang ia anggap sebagai guru spiritualnya, yaitu seorang biarawati yang sering ia jumpai dalam kegiatan OMK. David meminta arahan dan nasehat apa yang ia harus lakukan. Kemudian biarawati itu mengatakan bahwa, “Melayani itu memang baik, tetapi Tuhan juga tidak ingin jika pelayanan itu hanya sebagai ajang untuk hal yang kurang baik. Tuhan melihat hati, bukan kehebatan seseorang. Kamu memang bisa untuk melakukan itu semua, tetapi bukan itu yang Tuhan nilai. Yang Ia inginkan ialah kamu tetap melayani, tetapi dari pelayanan itu bisa menghasilkan buah untuk kamu sendiri dan banyak orang, tidak hanya untuk kesenangan pribadi. Kamu bisa bawa ini dalam doa mu.” Setelah mendapatkan pencerahan dari seorang biarawati, David segera meminta petunjuk dari Tuhan untuk membantu dalam kebimbangannya.

Seminggu kemudian David berjumpa lagi dengan seorang biarawati itu dan mengatakan bahwa, “Suster, aku sudah mengetahui apa yang harus aku lakukan melalui pergumulan aku selama satu minggu ini. Aku masih tetap bekerja, kuliah dan melayani Tuhan tetapi tidak memaksakan untuk melakukan semua pelayanan itu, ada beberapa kegiatan yang sudah aku kurangi agar aku bisa membagi waktuku sendiri. Aku ingin memiliki iman yang semakin tumbuh dan yang pasti tidak karena diriku sendiri, melainkan karena Tuhan Yesus besertaku.” Biarawati itu pun tersenyum kepada David dan mengatakan, “Hebat! Imanmu sudah mulai dewasa. Perlu kamu ingat apapun yang kita rasakan, baik dalam kebimbangan, masalah atau kesulitan mintalah pertolongan dari Dia yang pasti akan menolong semua umat-Nya.” David pun menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih atas nasehat yang diterima dan ia pun mulai menyadari bahwa Tuhan tidak melihat kehebatan seseorang, tetapi Ia melihat hati. Hati yang sungguh tulus untuk melayani-Nya.

 

Floren – Seksi Katekese PJGRR

You may also like...