VIGILI PASKAH: MALAM PENANTIAN PENUH IMAN

Sabtu Suci (juga disebut Sabtu Paskah, Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi (bahasa Latin: Sabbatum Sanctum – “Hari Sabat Suci”) adalah hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah. Sabtu Suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematiannya.

Sabtu Suci adalah hari yang cukup aneh dalam Tahun Liturgi. Dalam Tri Hari Suci : Kita menghadiri Ekaristi pada malam Perjamuan Kamis Putih dan menyambut Komuni suci; di hari Jumat Agung, tidak ada Ekaristi, tetapi kita bisa menyambut Komuni suci. Tetapi di hari Sabtu Suci, pagi hari, kita tidak bisa menghadiri Misa suci dan tidak bisa menyambut Komuni suci.

Kemarin setelah Ibadat Jumat Agung, Hosti suci disingkirkan dari gereja, disimpan sementara di tempat yang telah disediakan. Gereja di Sabtu suci pagi hari, Tabernakel kosong. Kehadiran Tuhan seakan-akan  lenyap dari bumi ini.

Kalau kita adalah umat yang setiap hari datang menghadiri Misa kudus dan menyambut Sakramen, tentu kita menangkap dan merasakan hal ini. Ada pepatah asing yang mengatakan: “Anda tidak bisa memahaminya, sampai ia tiada lagi.” Ketiadaan Misa dan Penyambutan Komuni mengajak kita lebih dalam memahami dan menghargai Misa suci dan Komuni Kudus: Allah memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita.

Sabtu suci, kita hayati sejak Jumat agung malam sampai Sabtu sore nanti, adalah hari terpanjang dalam Tahun Liturgi sepanjang tahun. Dalam kekosongan ini terasa waktu tidak berjalan secepat seperti biasanya.

Sabtu Suci mewakili waktu yang kita habiskan untuk menantikan Tuhan “memindahkan” kita dari kesedihan pada Jumat Agung ke kebahagiaan pada Minggu Paskah. Berikut penjelasannya:

1. Yesus tidak tergantung di salib dalam waktu lama seperti yang umumnya terjadi pada orang-orang yang disalibkan prajurit Romawi. Dia cepat-cepat diturunkan dari salib setelah menyerahkan nyawaNya, dan langsung dikuburkan. TubuhNya tetap berbentuk mayat sampai Minggu pagi (Markus 16:9).

2. Walaupun tubuh Yesus tetap berada di dalam kubur sampai Minggu Paskah, rohNya tidak berada di situ. Beberapa waktu setelah tubuhNya dibungkus kain linen, diberi minyak dan rempah-rempah, dan kuburNya ditutup dengan pintu batu, roh Yesus bangun dan meninggalkan tubuhNya (Yohanes 19:39; Yohanes 20:6-9).

3. Kemana Yesus pergi dan apa yang dilakukanNya diantara Jumat Agung dan Minggu Paskah? Dia tidak berada di bumi, tetapi berada bersama dengan orang-orang di neraka, dengan orang-orang yang telah menolak rencana Penyelamatan Tuhan. Dia ada disana untuk mengajarkan Injil, memberitahu siapa Dia sebenarnya, dan tetap bekerja untuk Kerajaan Allah. Untuk mengetahui lebih jelas tentang hal ini, silakan baca Efesus 4:7-9, Roma 4:11, Mazmur 139:7-8, dan Matius 12:38-40.

4. Mengapa Yesus melakukan hal tersebut, padahal orang-orang itu sudah lenyap? Mungkin karena orang-orang tersebut juga berhak untuk mengetahui siapa Yesus sebenarnya dan apa yang tidak bisa mereka dapatkan karena mereka tidak bertobat dan tidak mau percaya. Alkitab menyatakan bahwa, “Setiap lutut akan berlutut, dan setiap lidah akan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan” (Roma 14:11). Sepertinya hal ini juga berlaku bagi orang-orang yang sudah mati.

Makna Sabtu Suci, dalam sejarahnya sampai sekarang bisa diketahui sebagai berikut:

1. Poin yang terpenting adalah Yesus tetap bekerja pada Sabtu Suci; Jumat Agung sudah terlewati, Minggu Paskah sedang dinantikan, dan Yesus bekerja di antara kedua hari tersebut. Dan inilah yang dilakukanNya dalam hidup kita; bekerja, dan selalu bekerja untuk kita.

2. Saat kita menemui kesulitan atau cobaan, kita bisa saja berpikir dari waktu ke waktu bahwa Tuhan telah meninggalkan kita atau Tuhan tidak mau menolong kita lagi. Tetapi kita harus terus berdoa agar Tuhan menyertai dan menguatkan kita dalam setiap cobaan yang kita alami.

3. Ketika Sabtu Suci datang pada masa Prapaskah tahun ini, kita bisa menggunakan sebagian waktu di hari tersebut untuk merenung, bersyukur kepadaNya untuk pekerjaan yang telah dilakukanNya untuk kita; hasilnya (perubahan dalam hidup kita) mungkin belum dapat kita lihat dan nikmati sekarang, tetapi hasil tersebut sedang disempurnakan sementara kita menunggu (Mazmur 121:1-3).

4. Selain itu, selama kita menunggu hasil yang sempurna tersebut, kita seharusnya tetap bekerja dan tidak berpangku tangan, sama seperti Yesus yang tetap bekerja untuk kita. Kita tidak boleh menyerah begitu saja pada cobaan yang terjadi.

TUHAN MEMBERKATI

Isti Nugroho

 

https://www.instagram.com/p/BwgBS8vgsYx/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=5lexa63oxcvm

You may also like...