PENTAKOSTA

Tuhan menyapa setiap manusia
tanpa bicara tanpa berbahasa
Bagai mentari menyapa alam
kasih ilahi menyapa kita

Tuhan yang slalu menyapa kita
dengan kasihNya yang paling indah
yang tak mau seorangpun binasa
namun berbahagia

Hai manusia apa jawabmu
bila padamu Tuhan menyapa

Buka dirimu untuk sesama
buka hatimu untuk mencinta
ulur tanganmu tuk selamatkan
yang tersesat

Hai manusia apa jawabmu
bila padamu Tuhan menyapa

Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan Hari Raya Pentakosta. Pada hari ini, sekian ribu tahun yang lalu, Roh Kudus dicurahkan kepada para murid Yesus, sesuai yang telah dinubuatkanNya. Roh Kudus ini pula yang telah hidup dan mendorong para Rasul dan Gereja Perdana untuk keluar dari zona nyaman mereka, yaitu berkarya dan hidup di antara bangsa Yahudi. Mereka keluar dari zona nyaman mereka dan mewartakan Kabar Sukacita ke seluruh penjuru dunia, di antara bangsa-bangsa asing yang belum mengenal Allah. Dengan Roh ini pula mereka diberikan kekuatan dan kemampuan dalam upaya mendukung pewartaan Injil. Kemampuan berbahasa asing, mukjizat penyembuhan dan lain sebagainya, adalah beberapa bukti penyertaan Roh Kudus di antara para murid dan pengikut Kristus. Lalu, masihkah Roh Kudus ini hidup di dalam Gereja milenial saat ini?

Masa-masa yang luar biasa

Allah mengutus Roh-Nya dengan kuasa untuk mempersiapkan suatu umat yang akan mampu hidup ditengah kekacauan itu. Ia menciptakan suatu Pentakosta baru untuk generasi pertama kaum beriman dan St.Paulus adalah satu orang tersebut yang mendapatkan  Karunia dari Bahasa Roh. Di samping itu juga, karunia-karunia tersebut sungguh luar biasa. Bahkan pada Pentakosta Kristiani yang pertama itu, adegan para Rasul berbicara dalam bahasa-bahasa asing itu. Tampak tidak cocok dengan tradisi setempat. “Mereka semua tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain, ‘Apakah artinya ini?” (Kis 2:13).Dipenuhi Roh

Akhir abad ke 19 masa itu adalah masa-masa dimana dunia merasakan kemerosotan iman. Modernism dan kritisisme biblis merajalela, mengaburkan Pribadi Yesus dan membuat kebenaran iman tampak semakin sulit dipahami oleh umat beriman. Khususnya denominasi Protestan. Sekularisasi telah melanda banyak lembaga Kristiani tradisional Barat. Katanya, Paus Leo XII telah mendapat suatu penglihatan: dibalik semua ini, tangan Si  Malaikat Jatuh sedang bekerja untuk menguasai dan millennium yang akan datang ; dalam penglihatan itu ia juga menyaksikan pertempuran sengit yang akan terjadi pada abad ke-20.

Pada tahun 1897, Paus Leo menerima surat-surat dari seorang biarawati dari Italia yang bernama Beata Elena Guerra, pendiri Tarekat Oblat Roh Kudus. Ia mengharapakan supaya Bapa Suci membuka abad yang datang dengan melagukan Veni Creator Spiritus dan supaya Paus minta kepada para Uskup dan seluruh umat beriman agar mengadakan novena kepada Roh Kudus. Tidak mengherankan, banyak Orang Katolik melihat semua ini sebagai suatu gerakan Protestan, sebab gerakan itu muncul dan menyebar di luar Gereja Institutional. Tetapi, yang tidak disadari oleh banyak orang Katolik adalah bahwa cabang-cabang utama Protestanisme pun tidak mengakui Pentakolisme sebagai milik mereka, Pada tahun 1950-an, seorang Imam Spanyol, Santo Josemaria Escriva, menulis, “Berdoalah bersama saya untuk memohon suatu Pentakosta baru, yang sekali lagi akan membuat dunia ini bernyala.”

Roh Kudus: Pribadi Allah yang nyata sekaligus misterius

Mungkin banyak umat Katolik dapat menjelaskan dengan baik tentang dua Pribadi dalam Trinitas, yaitu Allah Bapa dan Allah Putera. Namun, tentang Allah Roh Kudus, ada banyak orang yang mungkin mengalami kesulitan untuk menjelaskannya. Roh Kudus sering hanya dihubungkan dengan kelompok-kelompok tertentu saja, seperti kelompok karismatik, karena di kelompok ini manifestasi Roh Kudus dianggap lebih nyata terjadi. Sementara sejumlah umat yang lain sering memandang Roh Kudus sebagai Pribadi yang  misterius dan tidak dapat dimengerti. Namun, sebenarnya semua umat beriman yang telah dibaptis telah mempunyai Roh Kudus dan ketujuh karunia Roh Kudus. Yang menjadi masalah adalah, apakah karunia Roh Kudus ini disadari dan mewarnai kehidupan umat beriman, sehingga dapat dikatakan bahwa Roh Kudus sungguh nyata di dalam kehidupan mereka.

Dalam menyambut Pentakosta, yaitu perayaan turunnya Roh Kudus atas para rasul, mari bersama merenungkan ke- tujuh karunia Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Yesaya 11:2-3 ” (1) kebijaksanaan (2) pengertian, (3) nasihat  (4) keperkasaan, (5) kesalehan, yaitu kesenangannya adalah takut akan Tuhan/ piety, (6) pengenalan akan Tuhan, (7) takut akan Tuhan”. Harapannya adalah, agar dengan merenungkan bahwa karunia Roh Kudus ini telah diberikan kepada kita pada saat Pembaptisan dan dikuatkan dalam Krisma, kita dapat bekerja sama dengan ketujuh karunia Roh Kudus ini, agar membawa buah-buahnya dalam kehidupan kita.

Manfaat karunia- karunia Roh Kudus: untuk menjadikan kita bahagia

Maka benar, bahwa jika Allah memberi karunia, pasti ada manfaatnya. Karunia- karunia Roh Kudus dimaksudkan Allah untuk menguduskan kita supaya kita dapat mencapai kebahagiaan yang sejati, yaitu kebahagiaan menurut Tuhan, dan bukan menurut manusia.

St. Agustinus dalam penjelasannya tentang khotbah di bukit (Delapan Sabda Bahagia) menghubungkan antara ketujuh karunia Roh Kudus (Yes 11:2-3) dengan ketujuh Sabda Bahagia tersebut (Mat 5:3-9), hanya urutannya terbalik. Nabi Yesaya menyebutkan karunia itu dengan urutan mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling sederhana, sedangkan Tuhan Yesus memberikan Sabda Bahagia mulai dari urutan yang paling sederhana sampai kepada yang paling tinggi. Dari tiap- tiap pasangannya, karunia Roh Kudus merupakan cara untuk mencapai Sabda Bahagia tersebut. Kaitan antara karunia Roh Kudus dengan Sabda Bahagia ini menunjukkan kepada kita bahwa maksud karunia Roh Kudus ini diberikan adalah supaya kita yang menerimanya mencapai kebahagiaan sejati.

Di sisi lain, kita juga diingatkan oleh Kitab Suci bahwa Roh Kudus ini diutus oleh Yesus sendiri, khusus untuk menemani para murid sebagai ‘Penolong yang lain’.

Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid untuk kembali ke Surga, Dia memberikan janji yang memberikan sumber kekuatan dan kepastian yang indah bagi anggota Gereja perdana itu. Kata-kata-Nya terus mengiang di telinga dan hati para murid, mengikis kegamangan dan kehampaan yang sempat hadir di hati mereka. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. (Yoh 14:16-17). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk menolak kehadiran Roh Kudus di dalam Gereja Katolik di era milenium ini. Hadirnya Gereja hingga saat ini juga merupakan bukti nyata penyertaan Roh Kudus sebagai Penolong yang dijanjikan oleh Yesus.

Tuhan memberkati.

Isti Nugroho

You may also like...